DADU

DADU
Rasakan, engkau punya banyak pilihan....

Selasa, 04 Januari 2011

Ada Anak Bertanya pada Ibunya...


“Bu tanggal 10 Muharam itu kapan sih?” Tanya Talisa sambil menutup buku PRnya. Sudah pukul setengah sembilan, waktunya Talisa tidur. Ibunya duduk di kasur Talisa, merapikan seprei.
“2 hari lagi. Emangnya kenapa Is?” ibunya balik bertanya.
“soalnya tadi di kelas, pak guru bilang suruh puasa sunnah gitu. Bukannya puasa itu pas Romadhon ya?” Talisa beranjak naik ke kasurnya, sambil memeluk bonekanya.
Ibunya tersenyum, memandang putrinya yang baru saja naik kelas 3 SD. “Kalo pas Romadhon itu puasa wajib Is. Nah, ada juga yang namanya puasa sunnah, berpahala tapi ga wajib dilakukan. Salah satu puasa sunnah itu pas tanggal 10 Muharam, disebut puasa Asyura.”
“Oh gitu ya…Ibu puasa ga?? Kalo puasa ntar aku ikut deh..hehehe!” Talisa berbaring di kasurnya.
Ibunya mencolek hidung Talisa,”Ih ga boleh donk kalo cuma ikut-ikutan. Tau gak sebabnya kita disuruh puasa ma Nabi?”
Talisa menggaruk kepalanya,”nggak, emang kenapa bu??”
“jadi waktu Rasulullah di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Lalu Rasululloh bertanya, kenapa mereka berpuasa. Nah mereka jawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Jelas ibunya.
“kok gitu bu, Talisa ga ngerti??” Talisa kebingungan.
Ibunya tersenyum, mengusap rambut Talisa,”karena Alloh berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)”
Jadi kitalah yang lebih berhak atas Nabi Musa daripada Yahudi, karena kita senantiasa mengikuti Rasululloh, sebagai penutup Nabi dan Rosul, sementara mereka tidak.”
“Ohhh….”Talisa manggut-manggut.”jadi abis itu kita diperintah puasa??”
“pinter…iya, kita akhirnya diperintahkan untuk puasa, pada tanggal 10 Muharram, atau disebut Puasa Asyura.” Ibunya tersenyum, menanggapi Talisa yang banyak bertanya. Talisa memang selalu ingin tahu.
“pahalanya gedhe ya bu??” kening Talisa berkerut, berpikir. Bonekanya dipeluk erat-erat.
“hemm…itu Alloh yang tahu, tapi Rasululloh bersabda,
“Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)
Jadi Talisa bayangin, dosa apa yang Talisa lakuin selama setahun, kalo Alloh berkenan, pasti diampuni.” Terang ibunya.
“Apa ya?? Kayaknya pernah bikin nangis si Intan, terus males beresin kamar, males bantuin ibu masak…ehmm udah kayaknya. Dimaafin ga ya kira-kira?? Ya Alloh, kalo Talisa puasa ntar, ampuni dosa Talisa ya??” Talisa pura-pura khusyuk berdoa.
“hahaha…dikit banget ya dosa Talisa.” Ibunya terkekeh melihat tingkah putri kecilnya.”kalo Talisa pengen puasa, jangan cuma pas tanggal 10 aja, tapi juga tanggal 9.” Lanjut ibunya setelah berhenti tertawa.
“lho bukannya tadi disuruhnya tanggal 10 bu??” Tanya Talisa bingung.
“iya emang, tapi Rasululloh bersabda,
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)
Akan tetapi, sayangnya usia Rasululloh tak sampai, Rasululloh terlanjur wafat. Tapi sabda Rasululloh tadi menjadi dalil sunnahnya puasa tanggal 9 Muharram, hal itu juga dimaksudkan untuk menyelisihi kaum Yahudi, yang hanya puasa tanggal 10 saja. Gimanapun, kita umat Islamlah yang lebih berhak atas Nabi Musa.” Ibunya menjelaskan panjang lebar.
“Berarti besok udah puasa ya bu??” Tanya Talisa, sambil sesekali menguap. Ibunya mengangguk, sambil merapikan selimut yang membungkus tubuh mungil Talisa.
“ntar bangunin ya bu?? Ntar Talisa ikut sahur ibu??” rengek Talisa. Ibunya tersenyum, mengangguk.
“udah..sekarang Talisa bobok dulu, besok kan harus sekolah, harus sahur lagi, ntar susah dibangunin..” ucap ibunya lembut.
“nanya satu lagi bu??”Tanya Talisa, matanya setengah memejam,” Dulu ayah juga puasa tanggal 9 dan 10 Muharram ga bu??”
Ibu mengecup kening Talisa,”Ayahmu dulu orang yang paling rajin mengerjakannya Is…” tersenyum.
Talisa pun memejamkan matanya sambil tersenyum.
Ibunya beranjak, mematikan lampu, keluar kamar. Dalam langkahnya, ibu membatin,
“anakmu sudah besar mas, Talisa mirip sepertimu, sangat mencintai sunnah, tanpa melupakan kewajibannya. Semoga Talisa menjadi anak yang sholeh, yang akan menjadi penerus amalmu. Semoga Alloh memudahkan kuburmu, dan memasukkanmu ke dalam surga-Nya…amin.”
Lampu-lampu rumah itu mulai padam satu persatu.

Senin, 27 Desember 2010

Chorus - "karena Menanti itu Indah"


Alexa terisak-isak dikamarnya. Wajahnya tertunduk di meja, bertumpu pada punggung tangannya. Alexa sebenarnya tahu, hal ini pasti terjadi. Dia sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi hal ini. Tapi tak pelak, ketika menghadapinya ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Ironis memang.

Alexa menegakkan kepalanya. Memandang separuh badanya yang terpantul dari cermin rias di depannya. Bulir air mata masih tampak membekas. Kerudungnya tampak kusut menutupi kepalanya. Perlahan, Alexa memperbaiki tatanan kerudungnya yang lebar, yang bersatu dengan jubahnya yang longgar, sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Apa yang salah dengan ini??? Bukankah semua orang tahu, ketika memeluk agama, pasti ada konsekuensi untuk menaati ajaran agama tersebut. Apa hanya karena ‘tidak biasa’, lantas itu dianggap salah??? Dianggap terlalu eksklusif??? Katakan, dimana keeksklusifan itu??? Rutuk Alexa di dalam hati.

Alexa berpikir, alangkah mudahnya melalui semua ini, kalau saja orang yang dihormati dan disayanginya mendukungnya, senantiasa memberi semangat. Tapi tidak, ternyata dia cuma sendiri. Harapannya tak menjadi nyata. Malah, mereka ikut memojokkannya. Alexa berharap, pikiran mereka lebih terbuka, mendengar argumentasi, melihat ke lingkungan luar. Tapi ternyata, mereka terkungkung hanya di kebiasaan daerah, bukan daerah tetangga, apalagi kota lain. Dan itu cukup untuk mencap Alexa salah.

Alexa sudah berumur 24 tahun. Di usianya itu, seharusnya Alexa sudah menimang satu anak, mengajaknya jalan sore dengan didampingi suaminya, memasak dan berbakti pada suami. Faktanya, memang itulah yang terjadi pada sebagian teman seusianya di kampungnya. Walaupun tidak persis seperti itu, banyak yang pernikahannya dipenuhi pertengkaran dan perselisihan. Tapi paling tidak, mereka sudah menikah. Hanya itu kata kuncinya.

Alexa sudah 2 tahun lulus dari sebuah universitas, dan sekarang sudah bekerja di kota. Memang, nasibnya lebih baik daripada teman sebaya di kampungnya. Alexa bisa meneruskan sampai jenjang kuliah dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Orang tuanya cukup berada sehingga mampu menyekolahkannya. Tapi tidak untuk urusan jodoh. Diantara teman sebayanya di kampung, hanya Alexa yang tak kunjung memiliki pendamping. Tak ayal, banyak suara simpang siur di tetangga.

Hal tersebut belum cukup, malah diperparah. Ketika pulang pas liburan kuliah, penampilan Alexa berubah. Jika dulu waktu SMA, Alexa merupakan gadis cantik yang menjadi idola, lengkap dengan baju seksi, rok sedikit di atas lutut, dan populer. Beranjak kuliah mulai memakai jilbab mini, yang hanya sebatas menutupi kepala, dengan pakaian yang tetap ketat, dan tingkah polah yang tak ada bedanya. Tapi, waktu pulang itu, Alexa berubah. Alexa memakai kerudung besar berwarna gelap, jubahnya berwarna senada. Dari luar yang terlihat hanya paras wajahnya, yang lebih bersinar dan merona, lebih sering tertunduk malu. Tak ada yang ragu, Alexa terlihat sangat cantik. Tapi, tak ada juga yang tahan untuk tidak membicarakan pakaiannya. Pakaian yang sangat asing di kampung, asing dikenakan oleh gadis seusia Alexa, dan asing dari pengetahuan warga.

Perubahan itu bukan saja mengejutkan warga kampung, tapi ayah ibunya, keluarganya juga ikut terperangah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Di rumah, Alexa dijejali bertubi-tubi pertanyaan, yang hanya Alexa jawab ini perintah agama. Ketika Alexa menjelaskan lebih lanjut dalil-dalilnya, keluarganya malah menuduhnya mengikuti aliran-aliran. Alexa tahu, keluarganya sangat menyayanginya, khawatir padanya, takut terjadi apa-apa padanya. Tapi Alexa sedih, keluarganya tidak mau menerima penjelasannya. Mereka telah menghakiminya, bahkan tanpa mendengar pendapatnya. Tetapi, semarah-marahnya ayah ibunya, Alexa tetap anaknya. Kadang, kalau Alexa pulang lagi, mereka tetap menyambutnya dengan hangat. Sayang, intensitas ngobrol mereka tak lagi sedekat dulu. Ada rasa canggung di antara mereka. Kadang, ketika malam, Alexa suka menangisi keadaan ini. Alexa ingin suasana kembali seperti dulu, tapi tanpa menanggalkan pakaiannya yang sekarang.

Tekanan itu belum cukup. Tetangga yang bisik-bisik di belakangnya, membicarakannya ketika Alexa lewat di jalan kampung. Rasanya semua itu rutin masuk ke telinga Alexa. Awalnya, Alexa tak menanggapi itu semua, selama itu tak merugikannya. Tapi seiring waktu, tetap aja omongan yang kurang enak didengar. Dan sebenarnya, Alexa tak keberatan jika yang digunjingkan itu hanya dia, tapi kesedihan dan amarahnya memuncak, ketika orang tuanya dibawa-bawa. Padahal, sikap ayah ibunya tak jauh beda.

Belum cukup dengan itu, sekarang ketika Alexa sudah mapan dan belum juga menemukan jodohnya, gunjingan itu semakin santer. Rasanya, kedamaian hanya didapatkannya ketika ada di kota, tempat Alexa bekerja, tapi ketika berlibur ke rumah, kedamaian itu lebur. Ironis memang, karena suasana desalah yang harusnya mendamaikan. Sempat terlintas di pikiran Alexa untuk tidak pulang dalam jangka waktu lama, tapi keinginan itu pupus mengingat baktinya pada ayah ibunya. Teringat akan kewajibannya sebagai seorang anak.

Dikepulangannya kali ini, Alexa menangis lagi. Penyebabnya masih hal yang sama. Masalah pakaian dan jodoh. Gunjingan itu tak berhenti. Padahal Alexa selalu berusaha ramah di depan tetangga, sikapnya tak berubah meski sering digosipkan. Senantiasa berharap, semua itu akan reda dengan sendirinya. Tapi percuma, harapannya menguap. Sikap yang diharapkannya dari keluarga dan tetangganya tak kunjung datang. Dan kali ini, di dalam kamarnya sendirian, pertahanan Alexa jebol. Sudah cukup lama Alexa menangis terisak sendirian. Beribu ucap doa, terukir dari bibir mungilnya, diteruskan pula dari dalam hatinya. Menumpahkan sedikit sakit di hatinya, berharap semua akan baik-baik saja, karena tahu Alloh sebaik-baik penolong dan pelindung.

Di kejauhan sana, berjarak lebih dari 100 kilometer dari tempat Alexa menangis bermunajat, seorang perempuan setengah baya sedang berdiri menghadap ke arah oven. Sedikit keringat menetes dari keningnya. Tangannya berlumur tepung, berbau keju. Peralatan masak sebagian tampak berserakan di sekelilingnya, menunggu untuk dibereskan. Terdengar langkah pelan dari belakang perempuan itu. Seorang pemuda, masuk dan menemui perempuan itu dengan santun.

“Assalamu’alaikum…udah jadi ma??” Tanya pemuda itu pelan, berdiri disamping mamanya.

“Wa’alaikumsalam. Ini tinggal nunggu matang, paling bentar lagi. Gimana, dah dapat barangnya??” Tanya perempuan itu, mama pemuda tadi. Matanya melirik anaknya, sambil tersenyum.

“Udah sih, tapi ya biasa aja ma. Ga papa kan, semoga aja orangnya suka.” Wajah pemuda itu bersemu merah.

“iya pasti suka kok, anak mama yang pilihin pasti bagus…hehe!” ujar mama menggoda anaknya.”yang penting itu hati kita, ikhlas dan berniat baik. Semoga semuanya lancar.” Lanjut mama.

“iya, semoga besok pas ke sana lancar dan berkah.” Pemuda itu mengamini perkataan mamanya.

Bunyi dari oven, pertanda kue sudah matang. Mama dengan hati-hati mengeluarkan kue dari oven, membiarkan sebentar agar dingin, sebelum dikemas dalam toples. Semerbak bau harum memenuhi ruangan, bau keju matang.

“hemmm…harum banget ma, dia pasti suka.” Ucap pemuda itu. Sambil tangannya menjumput sepotong kue dari Loyang.

“semoga. Oh ya, dia sudah tahu belum kalo kita mau ke sana??” Tanya mama. Tangannya terampil memasukkan kue keju ke toples.

“belum sih, pengen bikin kejutan..hehehe! biar romantis Ma.” Jawab pemuda itu ringan.

Mamanya ikut tersenyum,”tapi bener kan dia belum ada yang khitbah??” Tanya mamanya.

“insyaAlloh belum ma, makanya kita harus cepat-cepat. Sebelum direbut orang. Susah ma cari perempuan seperti dia di zaman ini. Perempuan yang begitu sederhana, sempurna tertutup auratnya, pandai menjaga diri dan berakhlak baik. Jadi ga sabar nih…”ucap pemuda itu gemas. Mamanya di sebelahnya hanya tersenyum, sembari berdoa dalam hatinya untuk kebahagiaan putranya.

Kue keju telah sempurna tertata di dalam toples. Telah siap menjadi pengawal sang pemuda untuk merebut hati sang gadis impian. Kue keju, yang di dalamnya tercampur seribu doa dari sang mama, yang dibuat dengan cinta, dan dikemas dengan restu.

Sang mama beranjak ke wastafel, membersihkan kerudungnya yang terkena sedikit noda kue. Matanya melirik anaknya, anak yang telah tumbuh dewasa, yang berwajah cerah, dihiasi jenggot tipis. Seorang anak yang dididiknya sendirian, setelah sang suami meninggal, telah tumbuh dewasa, yang sebentar lagi telah siap berumah tangga. Tak terasa, sebutir bulir hangat membasahi pipinya, sambil menatap pemuda berwajah ceria di hadapannya.

100 kilometer lebih dari dapur tempat membuat kue itu, Alexa tertidur pulas. Terlalu lelah menangis sehari ini. Tak pernah tahu, esok takdir membawakan seorang belahan jiwanya.

Di meja riasnya, di dalam toples, bertumpuk rapi kue keju yang belum sempat dimakan Alexa.

##karena sungguh, wanita baik-baik akan memperoleh lelaki yang baik-baik. Itu janji Alloh, tak perlu kau ragukan##

Sepiring Kue Keju

“Nggak yah, aku masih waras. Aku udah pertimbangin ini sejak lama. Sampai akhirnya aku yakin!” Nada suara Rion mulai meninggi. Sesekali diliriknya wajah ibunya, lalu kembali menatap wajah ayahnya.

“Apa-apaan kamu! Sejak dulu ayah udah mewanti-wanti kamu, jangan dekat-dekat dengan perempuan itu. Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita. Paham?” Nada ayahnya tak kalah keras. Kopi dihadapannya tak lagi mengepulkan uap panas, terlalu lama diacuhkan.

“Dia perempuan baik yah. Ayah saja yang belum mengenalnya. Kalau perlu besok aku ajak ke sini, biar ayah dan bunda kenal dia.” Nada suara Rion menurun, tapi tetap tegas.

“Ga perlu. Dengan sekali lihat pun ayah sudah tau perempuan macam apa dia.” Sungut ayahnya, dingin.

“Perempuan macam apa maksud ayah?” Suara Rion meninggi lagi. Tak terima.

“Dia itu cuma manfaatin kamu. Kamu harusnya sadar itu sejak awal. Ayah sudah mengetahui maksud dia deketin kamu.” Jawab ayahnya. Diteguknya sedikit kopi dingin di depannya. Hambar.

Rion tersenyum sinis.”Ayah..ayah…ini zaman udah modern. Jangan kolot gitu lagi donk. Itu cuma ada di pikiran orang-orang zaman dulu. Orang yang menganggap bahwa pernikahan hanya karena maksud tertentu. Zaman ketika cinta tak digubris.” Sindir Rion.

“Jadi maksudmu ayahmu ini orang kuno. Ga maju. Heh jangan sombong kamu. Ayah udah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari kamu. Lebih punya pengalaman daripada anak bau kencur kayak kamu.” Ayahnya mulai terpancing emosinya.

Di pojokan, ibunya hanya melihat perdebatan itu dalam diam. Matanya berkaca-kaca. Tak pernah Rion lihat mata seperti itu sebelumnya. Mata yang sendu, tampak lelah.

“Lalu sebenarnya apa yang jelek dari dia yah?? Ok, dia emang yatim piatu. Tapi keturunannya jelas yah, ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan. Harusnya ayah bangga, punya calon mantu yang mandiri. Dia menafkahi dirinya sendiri yah.” Bujuk Rion dengan suara pelan.

“Bah…ayah ga peduli. Kau tahu cerita tetangga heh? dia sering pulang malam-malam. Banyak warga yang liat. Jilbabnya itu Cuma kedok. Tak lebih dari kamuflase. Cih…” kata-kata kasar mulai keluar dari mulut ayahnya.

“Ayah..ayah..tolong donk realistis. Itu kan cuma cerita, tak lebih dari sekadar kabar burung. Udah ditambahin sana-sini. Banyak lelaki kampung sini dan sebelah yang suka sama dia. Semua ditolak yah. Dia korban yah. Korban barisan sakit hati yang ditolak mentah-mentah.” Jelas Rion panjang lebar.

“Rion tahu yah dimana dia kerja. Dia bukan kerja di klab, bukan di warung remang-remang. Bukan pula di kafe-kafe. Dia pintar yah. Mandiri. Dia kerja kantoran, sering lembur. Sama kayak Rion kan…orang-orang di sini banyak yang ga ngerti.” Lanjut rion.

“Ohh..jadi sekarang kamu juga berani ngehina orang kampung kita…hah..sudah hebat benar kamu. Tak sia-sia ayah sekolahin kamu tinggi-tinggi, berhasil menjadi orang sombong gini.” Jawab ayahnya ketus. “kalaupun ceritamu benar, tidak mungkin dia menerimamu dengan mudah, sementara dia menolak puluhan warga kampung, sampai kampung sebelah segala, kalau ga punya tujuan.” Lanjut ayahnya. Kopi dihadapannya hanya tinggal ampas hitam menggumpal.

“Maksud ayah…harta???” Rion memperjelas dengan hati-hati.

“Apa lagi???” jawab ayahnya ringan.

“oh ya Tuhan…Ok gini aja, ayah ga perlu keluarin biaya apapun untuk kami. Aku akan menafkahi dia nanti. Ayah ga perlu mengeluarkan sepeserpun, bahkan recehan sekalipun, dari kantong ayah untuk kami. Aku udah kerja, dia juga. Fair kan?? Dengan begitu dia ga akan mendapatkan harta seperti yang ayah tuduhkan. Asal ayah menyetujui hubungan kami, dan merestui kami menikah. Gimana??” Rion mengajukan penawaran. Otaknya sudah kehabisan akal untuk menyadarkan ayahnya, bahwa ini kenyataan, bukan dunia sinetron.

“apa kamu ga menyadari, justru itu yang dia inginkan. Memecah belah keluarga kita nak…” suara ayahnya memelan. Sedikit terisak.

“maksud ayah???” Tanya Rion semakin tak mengerti.

“Bu…???” Ayahnya menengok, ke arah istrinya di pojokan, meminta bantuan.

Sejenak hening. Kemudian, ibunya yang sedari tadi diam, akhirnya angkat suara. Bibirnya terasa sangat berat untuk membuka. Ruangan itu menjadi mencekam. Hanya suara detak jam yang mengalun teratur.

“sebenarnya, ini terjadi udah lama. Kamu tak pernah tahu, karena kami merahasiakan ini semua dari orang-orang.” Suara ibu bergetar. Bibirnya kelu. “ayah dan ibu Yani, gadis itu, kamilah yang membunuhnya, ayah dan ibu Ri…” setelah berucap, ibu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak-isak. Amat pedih.

Bagi Rion, sejenak terasa waktu di pause, dunia berhenti berputar, kepalanya pusing, terasa linglung. Rion segera memegang tepian kursi. Pelan-pelan menyandarkan tubuhnya yang terasa berat. Pikirannya kalut, mulai tak mengerti arah pembicaraan ini.

“kecelakaan itu, kamilah yang menabraknya. Mobil kami bertabrakan di luar kota. Yang selamat hanya Yani. Kami udah mencoba bertanggung jawab, menawarkan segala bantuan yang kami bisa. Uang, nafkah, biaya, apapun itu, kami siap keluarkan sebagai penebus dosa kami. Tapi….” Ibu berhenti, isaknya semakin deras. Air matanya mengucur deras di pipinya. “tapi, begitu tahu orang tuanya meninggal, dia begitu marah. Dia sama sekali tidak mau menerima apapun dari kami. Dia menghardik kami, mengata-ngatai kami, menyalahkan semuanya pada kami. Lalu, akhirnya dia bilang, dia akan menuntut balas pada kami atas kejadian itu. Setelah itu dia menghilang, lalu beberapa bulan kemudian dia kembali tinggal di rumahnya. Dia tak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, warga sini tak pernah tahu, bahwa orang tuanya meninggal karena kecelakaan dengan kami Ri…” lanjut ibu Rion, sambil sesenggukan.

“kalau begitu, lantas kenapa ayah dan ibu sekarang menolaknya?? Seperti…terkesan memusuhinya??” Tanya Rion, beberapa saat kemudian.

Ayahnya memandang Rion, sayu,”Karena kami takut Ri, kamulah sarana Yani untuk balas dendam pada kami, seperti yang dia bilang dulu. Dia ingin menghancurkan keluarga kita, seperti kita menghancurkan keluarganya dulu, itu anggapan dia.” Ayahnya menjelaskan.

Rion memandang wajah ayah dan ibunya bergantian,”Tapi itu kan belum tentu yah. Siapa tahu memang dia telah melupakan semua kejadian itu. Tidak ada lagi dendam. Yani udah dewasa yah. Mungkin waktu udah nyadarin dia, kalau ini takdir.” Tutur Rion.

“nggak Ri, ayah harap kamu bener-bener pertimbangin ini semua. Masih banyak kan gadis di kampung ini. Lagian kamu sarjana, tidak susah kalau hanya memikat gadis di sini.” Tegas ayahnya.

Rion menggeleng,”yah…Rion dah beberapa bulan ini pendekatan dengan Yani. Tak ada tanda apapun yang menunjukkan dendamnya pada keluarga kita. Yani baik banget sama Rion. Perhatian, sayang, Yani cinta yah ma Rion. Rion bisa rasakan itu.” Rion tetap berdiri pada pendiriannya.

Brakkkk!! Ayahnya menggebrak meja, berdiri.”Sekali nggak, tetep nggak!! Apa susahnya sih nurutin keinginan ayah. Ayah sudah menyiapkan jodoh yang lebih layak daripada perempuan malam itu. Ayah sudah merancang semua persiapan pernikahan dengan perempuan pilihan ayah. Titik!!” bentak ayahnya keras.

“apalagi ini…?? Sebenarnya apa sih alasan ayah menentang keputusanku. Kenapa begitu banyak alasan. Rasa-rasanya, semua alasan ayah terlalu dibuat-buat. Apa ini semua cuma sekadar sandiwara.” Rion menutup mukanya, mukanya terasa panas, merah padam. “Rion pikir, perdebatan ini tak ada gunanya. Sandiwaranya cukup sudah. Aku capek dengar semua kebohongan ini.” Rion berkata lirih, sambil berdiri.

Digesernya kursi yang didudukinya, berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya ayahnya, wajah ayah tampak memerah dengan urat yang tegang. Kemudan beralih ke ibunya. Wajah tuanya tampak lelah dan tertekan. Tak tahu apakah ibunya sekarang telah pandai bersilat lidah, mengucap kata yang tak jujur. Tak tahu. Yang Rion tahu, dia masih sangat menyayangi orang tuanya. Lalu, ditutupnya pintu kamarnya pelan. Dalam gelap.

Beberapa saat kemudian. “Pak-e…apa benar yang udah kita lakukan???” ibu Rion berjalan mendekati suaminya, setengah berbisik.

“aku tak tahu bu Kalau emang ini nanti udah mentok, kalau semua ini tak mempan untuk menghalangi niat Rion, terpaksa kita harus menceritakan yang sebenarnya, bahwa Yani masih berhubungan darah dengannya. Tak mungkin dia menikahi adiknya sendiri.” Kata suaminya perlahan. Digenggamnya cangkir kopi yang tak berisi lagi.

Paginya Ibu Rion berjalan menuju kamar Rion. Ditangannya memegang sepiring kue keju, kesukaan Rion. Ibunya ingin mendinginkan hati dan kepala Rion setelah pertengkaran hebat semalam. Setengah hati, ibunya mengetuk pintu. Sepi. Tak ada jawaban. Setelah beberapa kali tetap tak ada respon dari dalam kamar, ibunya memutar sendiri pegangan pintu, mendorongnya hingga terbuka. Kamar itu sudah rapi, tapi kosong. Setelah beberapa langkah, ibu Rion melihat secarik kertas bergaris di atas meja. Lalu dibacanya. Sejenak kemudian, piring di tangannya jatuh, pecah berhamburan. Dalam hitungan detik, ibu Rion berteriak,”Pakkkk….!!!!”

Dan segera setelah itu, tubuhnya terjerembap ke lantai, terkulai lemas di sana.

Kamis, 23 Desember 2010

DADU

Serupa dadu bermata enam, yang mencipta ratusan peluang. Kau harus berjudi dengannya, hanya sekadar menebak-nebak. Kau tak pernah tahu apa yang akan keluar, takdir mempermainkanmu. Serupa itu keputusanku bersamamu. Aku berjudi dengan jodoh, engkau bermain dengan asa. Kusadari, engkau hanya menyambut, tanpa menaksir. Lalu aku percaya.

Bisa saja keluar angka satu sampai enam. Seibarat itu aku menemukanmu. Aku sudah terlalu lelah mencari, dan kau terlalu lelah menanti. Kita dipertemukan, diombang-ambingkan, dan dipersatukan. Aku putus asa, dan kau terlalu berharap. Tak pernah kuharap terlalu berlebih, aku sudah sering menangis. Engkaupun tak pernah mencari keras, engkau sudah lelah. Lalu kita bersatu.

Dalam judi, aku menemukan cerita fantasi bersamamu. Engkau menuturkan segala kejutan, yang kuterima dalam senyum. Engkau menawarkan sejuta pengalaman, petualangan dalam mimpimu. Aku belum mengenalmu, tapi aku menyukai detik bersamamu. Lalu aku kosong, dan kau semarakkan dengan hidup. Aku terbangun, engkau bukannya putus asa, tapi engkau menahan segalanya. Engkau diam-diam mempersiapkannya, menunjukkan duniamu padaku, aku mencintainya.

Berapapun dadu itu mengeluarkan angka, aku tak menyesal. Setiap tebakan itu menyimpan arti. Engkau tak pernah habis. Selalu memperlihatkan hal yang berbeda padaku. Aku tak lagi menebak, aku merengkuh setiap peluang angka yang keluar. Aku menanti caramu mencipta kejutan.

Aku akan menebak berapapun angka yang keluar dari dadu, bersamamu. Berapa yang keluar, itu pilihan kita berdua.

Sungguh, aku memeluk erat masa-masa ini. Sampai tangan si pelempar dadu lelah berjudi.

Sampai itu, aku cukup denganmu.