DADU

DADU
Rasakan, engkau punya banyak pilihan....
Tampilkan postingan dengan label keju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keju. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Desember 2010

Chorus - "karena Menanti itu Indah"


Alexa terisak-isak dikamarnya. Wajahnya tertunduk di meja, bertumpu pada punggung tangannya. Alexa sebenarnya tahu, hal ini pasti terjadi. Dia sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi hal ini. Tapi tak pelak, ketika menghadapinya ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Ironis memang.

Alexa menegakkan kepalanya. Memandang separuh badanya yang terpantul dari cermin rias di depannya. Bulir air mata masih tampak membekas. Kerudungnya tampak kusut menutupi kepalanya. Perlahan, Alexa memperbaiki tatanan kerudungnya yang lebar, yang bersatu dengan jubahnya yang longgar, sempurna menutupi seluruh tubuhnya. Apa yang salah dengan ini??? Bukankah semua orang tahu, ketika memeluk agama, pasti ada konsekuensi untuk menaati ajaran agama tersebut. Apa hanya karena ‘tidak biasa’, lantas itu dianggap salah??? Dianggap terlalu eksklusif??? Katakan, dimana keeksklusifan itu??? Rutuk Alexa di dalam hati.

Alexa berpikir, alangkah mudahnya melalui semua ini, kalau saja orang yang dihormati dan disayanginya mendukungnya, senantiasa memberi semangat. Tapi tidak, ternyata dia cuma sendiri. Harapannya tak menjadi nyata. Malah, mereka ikut memojokkannya. Alexa berharap, pikiran mereka lebih terbuka, mendengar argumentasi, melihat ke lingkungan luar. Tapi ternyata, mereka terkungkung hanya di kebiasaan daerah, bukan daerah tetangga, apalagi kota lain. Dan itu cukup untuk mencap Alexa salah.

Alexa sudah berumur 24 tahun. Di usianya itu, seharusnya Alexa sudah menimang satu anak, mengajaknya jalan sore dengan didampingi suaminya, memasak dan berbakti pada suami. Faktanya, memang itulah yang terjadi pada sebagian teman seusianya di kampungnya. Walaupun tidak persis seperti itu, banyak yang pernikahannya dipenuhi pertengkaran dan perselisihan. Tapi paling tidak, mereka sudah menikah. Hanya itu kata kuncinya.

Alexa sudah 2 tahun lulus dari sebuah universitas, dan sekarang sudah bekerja di kota. Memang, nasibnya lebih baik daripada teman sebaya di kampungnya. Alexa bisa meneruskan sampai jenjang kuliah dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Orang tuanya cukup berada sehingga mampu menyekolahkannya. Tapi tidak untuk urusan jodoh. Diantara teman sebayanya di kampung, hanya Alexa yang tak kunjung memiliki pendamping. Tak ayal, banyak suara simpang siur di tetangga.

Hal tersebut belum cukup, malah diperparah. Ketika pulang pas liburan kuliah, penampilan Alexa berubah. Jika dulu waktu SMA, Alexa merupakan gadis cantik yang menjadi idola, lengkap dengan baju seksi, rok sedikit di atas lutut, dan populer. Beranjak kuliah mulai memakai jilbab mini, yang hanya sebatas menutupi kepala, dengan pakaian yang tetap ketat, dan tingkah polah yang tak ada bedanya. Tapi, waktu pulang itu, Alexa berubah. Alexa memakai kerudung besar berwarna gelap, jubahnya berwarna senada. Dari luar yang terlihat hanya paras wajahnya, yang lebih bersinar dan merona, lebih sering tertunduk malu. Tak ada yang ragu, Alexa terlihat sangat cantik. Tapi, tak ada juga yang tahan untuk tidak membicarakan pakaiannya. Pakaian yang sangat asing di kampung, asing dikenakan oleh gadis seusia Alexa, dan asing dari pengetahuan warga.

Perubahan itu bukan saja mengejutkan warga kampung, tapi ayah ibunya, keluarganya juga ikut terperangah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Di rumah, Alexa dijejali bertubi-tubi pertanyaan, yang hanya Alexa jawab ini perintah agama. Ketika Alexa menjelaskan lebih lanjut dalil-dalilnya, keluarganya malah menuduhnya mengikuti aliran-aliran. Alexa tahu, keluarganya sangat menyayanginya, khawatir padanya, takut terjadi apa-apa padanya. Tapi Alexa sedih, keluarganya tidak mau menerima penjelasannya. Mereka telah menghakiminya, bahkan tanpa mendengar pendapatnya. Tetapi, semarah-marahnya ayah ibunya, Alexa tetap anaknya. Kadang, kalau Alexa pulang lagi, mereka tetap menyambutnya dengan hangat. Sayang, intensitas ngobrol mereka tak lagi sedekat dulu. Ada rasa canggung di antara mereka. Kadang, ketika malam, Alexa suka menangisi keadaan ini. Alexa ingin suasana kembali seperti dulu, tapi tanpa menanggalkan pakaiannya yang sekarang.

Tekanan itu belum cukup. Tetangga yang bisik-bisik di belakangnya, membicarakannya ketika Alexa lewat di jalan kampung. Rasanya semua itu rutin masuk ke telinga Alexa. Awalnya, Alexa tak menanggapi itu semua, selama itu tak merugikannya. Tapi seiring waktu, tetap aja omongan yang kurang enak didengar. Dan sebenarnya, Alexa tak keberatan jika yang digunjingkan itu hanya dia, tapi kesedihan dan amarahnya memuncak, ketika orang tuanya dibawa-bawa. Padahal, sikap ayah ibunya tak jauh beda.

Belum cukup dengan itu, sekarang ketika Alexa sudah mapan dan belum juga menemukan jodohnya, gunjingan itu semakin santer. Rasanya, kedamaian hanya didapatkannya ketika ada di kota, tempat Alexa bekerja, tapi ketika berlibur ke rumah, kedamaian itu lebur. Ironis memang, karena suasana desalah yang harusnya mendamaikan. Sempat terlintas di pikiran Alexa untuk tidak pulang dalam jangka waktu lama, tapi keinginan itu pupus mengingat baktinya pada ayah ibunya. Teringat akan kewajibannya sebagai seorang anak.

Dikepulangannya kali ini, Alexa menangis lagi. Penyebabnya masih hal yang sama. Masalah pakaian dan jodoh. Gunjingan itu tak berhenti. Padahal Alexa selalu berusaha ramah di depan tetangga, sikapnya tak berubah meski sering digosipkan. Senantiasa berharap, semua itu akan reda dengan sendirinya. Tapi percuma, harapannya menguap. Sikap yang diharapkannya dari keluarga dan tetangganya tak kunjung datang. Dan kali ini, di dalam kamarnya sendirian, pertahanan Alexa jebol. Sudah cukup lama Alexa menangis terisak sendirian. Beribu ucap doa, terukir dari bibir mungilnya, diteruskan pula dari dalam hatinya. Menumpahkan sedikit sakit di hatinya, berharap semua akan baik-baik saja, karena tahu Alloh sebaik-baik penolong dan pelindung.

Di kejauhan sana, berjarak lebih dari 100 kilometer dari tempat Alexa menangis bermunajat, seorang perempuan setengah baya sedang berdiri menghadap ke arah oven. Sedikit keringat menetes dari keningnya. Tangannya berlumur tepung, berbau keju. Peralatan masak sebagian tampak berserakan di sekelilingnya, menunggu untuk dibereskan. Terdengar langkah pelan dari belakang perempuan itu. Seorang pemuda, masuk dan menemui perempuan itu dengan santun.

“Assalamu’alaikum…udah jadi ma??” Tanya pemuda itu pelan, berdiri disamping mamanya.

“Wa’alaikumsalam. Ini tinggal nunggu matang, paling bentar lagi. Gimana, dah dapat barangnya??” Tanya perempuan itu, mama pemuda tadi. Matanya melirik anaknya, sambil tersenyum.

“Udah sih, tapi ya biasa aja ma. Ga papa kan, semoga aja orangnya suka.” Wajah pemuda itu bersemu merah.

“iya pasti suka kok, anak mama yang pilihin pasti bagus…hehe!” ujar mama menggoda anaknya.”yang penting itu hati kita, ikhlas dan berniat baik. Semoga semuanya lancar.” Lanjut mama.

“iya, semoga besok pas ke sana lancar dan berkah.” Pemuda itu mengamini perkataan mamanya.

Bunyi dari oven, pertanda kue sudah matang. Mama dengan hati-hati mengeluarkan kue dari oven, membiarkan sebentar agar dingin, sebelum dikemas dalam toples. Semerbak bau harum memenuhi ruangan, bau keju matang.

“hemmm…harum banget ma, dia pasti suka.” Ucap pemuda itu. Sambil tangannya menjumput sepotong kue dari Loyang.

“semoga. Oh ya, dia sudah tahu belum kalo kita mau ke sana??” Tanya mama. Tangannya terampil memasukkan kue keju ke toples.

“belum sih, pengen bikin kejutan..hehehe! biar romantis Ma.” Jawab pemuda itu ringan.

Mamanya ikut tersenyum,”tapi bener kan dia belum ada yang khitbah??” Tanya mamanya.

“insyaAlloh belum ma, makanya kita harus cepat-cepat. Sebelum direbut orang. Susah ma cari perempuan seperti dia di zaman ini. Perempuan yang begitu sederhana, sempurna tertutup auratnya, pandai menjaga diri dan berakhlak baik. Jadi ga sabar nih…”ucap pemuda itu gemas. Mamanya di sebelahnya hanya tersenyum, sembari berdoa dalam hatinya untuk kebahagiaan putranya.

Kue keju telah sempurna tertata di dalam toples. Telah siap menjadi pengawal sang pemuda untuk merebut hati sang gadis impian. Kue keju, yang di dalamnya tercampur seribu doa dari sang mama, yang dibuat dengan cinta, dan dikemas dengan restu.

Sang mama beranjak ke wastafel, membersihkan kerudungnya yang terkena sedikit noda kue. Matanya melirik anaknya, anak yang telah tumbuh dewasa, yang berwajah cerah, dihiasi jenggot tipis. Seorang anak yang dididiknya sendirian, setelah sang suami meninggal, telah tumbuh dewasa, yang sebentar lagi telah siap berumah tangga. Tak terasa, sebutir bulir hangat membasahi pipinya, sambil menatap pemuda berwajah ceria di hadapannya.

100 kilometer lebih dari dapur tempat membuat kue itu, Alexa tertidur pulas. Terlalu lelah menangis sehari ini. Tak pernah tahu, esok takdir membawakan seorang belahan jiwanya.

Di meja riasnya, di dalam toples, bertumpuk rapi kue keju yang belum sempat dimakan Alexa.

##karena sungguh, wanita baik-baik akan memperoleh lelaki yang baik-baik. Itu janji Alloh, tak perlu kau ragukan##

Sepiring Kue Keju

“Nggak yah, aku masih waras. Aku udah pertimbangin ini sejak lama. Sampai akhirnya aku yakin!” Nada suara Rion mulai meninggi. Sesekali diliriknya wajah ibunya, lalu kembali menatap wajah ayahnya.

“Apa-apaan kamu! Sejak dulu ayah udah mewanti-wanti kamu, jangan dekat-dekat dengan perempuan itu. Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita. Paham?” Nada ayahnya tak kalah keras. Kopi dihadapannya tak lagi mengepulkan uap panas, terlalu lama diacuhkan.

“Dia perempuan baik yah. Ayah saja yang belum mengenalnya. Kalau perlu besok aku ajak ke sini, biar ayah dan bunda kenal dia.” Nada suara Rion menurun, tapi tetap tegas.

“Ga perlu. Dengan sekali lihat pun ayah sudah tau perempuan macam apa dia.” Sungut ayahnya, dingin.

“Perempuan macam apa maksud ayah?” Suara Rion meninggi lagi. Tak terima.

“Dia itu cuma manfaatin kamu. Kamu harusnya sadar itu sejak awal. Ayah sudah mengetahui maksud dia deketin kamu.” Jawab ayahnya. Diteguknya sedikit kopi dingin di depannya. Hambar.

Rion tersenyum sinis.”Ayah..ayah…ini zaman udah modern. Jangan kolot gitu lagi donk. Itu cuma ada di pikiran orang-orang zaman dulu. Orang yang menganggap bahwa pernikahan hanya karena maksud tertentu. Zaman ketika cinta tak digubris.” Sindir Rion.

“Jadi maksudmu ayahmu ini orang kuno. Ga maju. Heh jangan sombong kamu. Ayah udah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari kamu. Lebih punya pengalaman daripada anak bau kencur kayak kamu.” Ayahnya mulai terpancing emosinya.

Di pojokan, ibunya hanya melihat perdebatan itu dalam diam. Matanya berkaca-kaca. Tak pernah Rion lihat mata seperti itu sebelumnya. Mata yang sendu, tampak lelah.

“Lalu sebenarnya apa yang jelek dari dia yah?? Ok, dia emang yatim piatu. Tapi keturunannya jelas yah, ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan. Harusnya ayah bangga, punya calon mantu yang mandiri. Dia menafkahi dirinya sendiri yah.” Bujuk Rion dengan suara pelan.

“Bah…ayah ga peduli. Kau tahu cerita tetangga heh? dia sering pulang malam-malam. Banyak warga yang liat. Jilbabnya itu Cuma kedok. Tak lebih dari kamuflase. Cih…” kata-kata kasar mulai keluar dari mulut ayahnya.

“Ayah..ayah..tolong donk realistis. Itu kan cuma cerita, tak lebih dari sekadar kabar burung. Udah ditambahin sana-sini. Banyak lelaki kampung sini dan sebelah yang suka sama dia. Semua ditolak yah. Dia korban yah. Korban barisan sakit hati yang ditolak mentah-mentah.” Jelas Rion panjang lebar.

“Rion tahu yah dimana dia kerja. Dia bukan kerja di klab, bukan di warung remang-remang. Bukan pula di kafe-kafe. Dia pintar yah. Mandiri. Dia kerja kantoran, sering lembur. Sama kayak Rion kan…orang-orang di sini banyak yang ga ngerti.” Lanjut rion.

“Ohh..jadi sekarang kamu juga berani ngehina orang kampung kita…hah..sudah hebat benar kamu. Tak sia-sia ayah sekolahin kamu tinggi-tinggi, berhasil menjadi orang sombong gini.” Jawab ayahnya ketus. “kalaupun ceritamu benar, tidak mungkin dia menerimamu dengan mudah, sementara dia menolak puluhan warga kampung, sampai kampung sebelah segala, kalau ga punya tujuan.” Lanjut ayahnya. Kopi dihadapannya hanya tinggal ampas hitam menggumpal.

“Maksud ayah…harta???” Rion memperjelas dengan hati-hati.

“Apa lagi???” jawab ayahnya ringan.

“oh ya Tuhan…Ok gini aja, ayah ga perlu keluarin biaya apapun untuk kami. Aku akan menafkahi dia nanti. Ayah ga perlu mengeluarkan sepeserpun, bahkan recehan sekalipun, dari kantong ayah untuk kami. Aku udah kerja, dia juga. Fair kan?? Dengan begitu dia ga akan mendapatkan harta seperti yang ayah tuduhkan. Asal ayah menyetujui hubungan kami, dan merestui kami menikah. Gimana??” Rion mengajukan penawaran. Otaknya sudah kehabisan akal untuk menyadarkan ayahnya, bahwa ini kenyataan, bukan dunia sinetron.

“apa kamu ga menyadari, justru itu yang dia inginkan. Memecah belah keluarga kita nak…” suara ayahnya memelan. Sedikit terisak.

“maksud ayah???” Tanya Rion semakin tak mengerti.

“Bu…???” Ayahnya menengok, ke arah istrinya di pojokan, meminta bantuan.

Sejenak hening. Kemudian, ibunya yang sedari tadi diam, akhirnya angkat suara. Bibirnya terasa sangat berat untuk membuka. Ruangan itu menjadi mencekam. Hanya suara detak jam yang mengalun teratur.

“sebenarnya, ini terjadi udah lama. Kamu tak pernah tahu, karena kami merahasiakan ini semua dari orang-orang.” Suara ibu bergetar. Bibirnya kelu. “ayah dan ibu Yani, gadis itu, kamilah yang membunuhnya, ayah dan ibu Ri…” setelah berucap, ibu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak-isak. Amat pedih.

Bagi Rion, sejenak terasa waktu di pause, dunia berhenti berputar, kepalanya pusing, terasa linglung. Rion segera memegang tepian kursi. Pelan-pelan menyandarkan tubuhnya yang terasa berat. Pikirannya kalut, mulai tak mengerti arah pembicaraan ini.

“kecelakaan itu, kamilah yang menabraknya. Mobil kami bertabrakan di luar kota. Yang selamat hanya Yani. Kami udah mencoba bertanggung jawab, menawarkan segala bantuan yang kami bisa. Uang, nafkah, biaya, apapun itu, kami siap keluarkan sebagai penebus dosa kami. Tapi….” Ibu berhenti, isaknya semakin deras. Air matanya mengucur deras di pipinya. “tapi, begitu tahu orang tuanya meninggal, dia begitu marah. Dia sama sekali tidak mau menerima apapun dari kami. Dia menghardik kami, mengata-ngatai kami, menyalahkan semuanya pada kami. Lalu, akhirnya dia bilang, dia akan menuntut balas pada kami atas kejadian itu. Setelah itu dia menghilang, lalu beberapa bulan kemudian dia kembali tinggal di rumahnya. Dia tak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, warga sini tak pernah tahu, bahwa orang tuanya meninggal karena kecelakaan dengan kami Ri…” lanjut ibu Rion, sambil sesenggukan.

“kalau begitu, lantas kenapa ayah dan ibu sekarang menolaknya?? Seperti…terkesan memusuhinya??” Tanya Rion, beberapa saat kemudian.

Ayahnya memandang Rion, sayu,”Karena kami takut Ri, kamulah sarana Yani untuk balas dendam pada kami, seperti yang dia bilang dulu. Dia ingin menghancurkan keluarga kita, seperti kita menghancurkan keluarganya dulu, itu anggapan dia.” Ayahnya menjelaskan.

Rion memandang wajah ayah dan ibunya bergantian,”Tapi itu kan belum tentu yah. Siapa tahu memang dia telah melupakan semua kejadian itu. Tidak ada lagi dendam. Yani udah dewasa yah. Mungkin waktu udah nyadarin dia, kalau ini takdir.” Tutur Rion.

“nggak Ri, ayah harap kamu bener-bener pertimbangin ini semua. Masih banyak kan gadis di kampung ini. Lagian kamu sarjana, tidak susah kalau hanya memikat gadis di sini.” Tegas ayahnya.

Rion menggeleng,”yah…Rion dah beberapa bulan ini pendekatan dengan Yani. Tak ada tanda apapun yang menunjukkan dendamnya pada keluarga kita. Yani baik banget sama Rion. Perhatian, sayang, Yani cinta yah ma Rion. Rion bisa rasakan itu.” Rion tetap berdiri pada pendiriannya.

Brakkkk!! Ayahnya menggebrak meja, berdiri.”Sekali nggak, tetep nggak!! Apa susahnya sih nurutin keinginan ayah. Ayah sudah menyiapkan jodoh yang lebih layak daripada perempuan malam itu. Ayah sudah merancang semua persiapan pernikahan dengan perempuan pilihan ayah. Titik!!” bentak ayahnya keras.

“apalagi ini…?? Sebenarnya apa sih alasan ayah menentang keputusanku. Kenapa begitu banyak alasan. Rasa-rasanya, semua alasan ayah terlalu dibuat-buat. Apa ini semua cuma sekadar sandiwara.” Rion menutup mukanya, mukanya terasa panas, merah padam. “Rion pikir, perdebatan ini tak ada gunanya. Sandiwaranya cukup sudah. Aku capek dengar semua kebohongan ini.” Rion berkata lirih, sambil berdiri.

Digesernya kursi yang didudukinya, berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya ayahnya, wajah ayah tampak memerah dengan urat yang tegang. Kemudan beralih ke ibunya. Wajah tuanya tampak lelah dan tertekan. Tak tahu apakah ibunya sekarang telah pandai bersilat lidah, mengucap kata yang tak jujur. Tak tahu. Yang Rion tahu, dia masih sangat menyayangi orang tuanya. Lalu, ditutupnya pintu kamarnya pelan. Dalam gelap.

Beberapa saat kemudian. “Pak-e…apa benar yang udah kita lakukan???” ibu Rion berjalan mendekati suaminya, setengah berbisik.

“aku tak tahu bu Kalau emang ini nanti udah mentok, kalau semua ini tak mempan untuk menghalangi niat Rion, terpaksa kita harus menceritakan yang sebenarnya, bahwa Yani masih berhubungan darah dengannya. Tak mungkin dia menikahi adiknya sendiri.” Kata suaminya perlahan. Digenggamnya cangkir kopi yang tak berisi lagi.

Paginya Ibu Rion berjalan menuju kamar Rion. Ditangannya memegang sepiring kue keju, kesukaan Rion. Ibunya ingin mendinginkan hati dan kepala Rion setelah pertengkaran hebat semalam. Setengah hati, ibunya mengetuk pintu. Sepi. Tak ada jawaban. Setelah beberapa kali tetap tak ada respon dari dalam kamar, ibunya memutar sendiri pegangan pintu, mendorongnya hingga terbuka. Kamar itu sudah rapi, tapi kosong. Setelah beberapa langkah, ibu Rion melihat secarik kertas bergaris di atas meja. Lalu dibacanya. Sejenak kemudian, piring di tangannya jatuh, pecah berhamburan. Dalam hitungan detik, ibu Rion berteriak,”Pakkkk….!!!!”

Dan segera setelah itu, tubuhnya terjerembap ke lantai, terkulai lemas di sana.

Senin, 13 Desember 2010

Cincin Keju


Lelaki itu menaiki tangga perlahan. Detak sepatunya hampir tak terdengar. Sangat lirih. Seolah pencuri yang takut tertangkap satpam. Tangga itu mengarah ke lantai dua. Di bawahnya, tampak ruang keluarga yang bergaya minimalis. Hanya ada sofa dan seperangkat tv plus sound system. Di ujung tangga atas, di sisinya tampak vas tinggi berisi bunga yang panjang menjuntai. Entah apalah namanya. Entah asli atau juga replika. Tak begitu memperhatikan, karena bukan itu tujuan lelaki itu naik ke atas.

Sampai di lantai dua. Arah tubuhnya segera berubah kearah sebuah pintu yang tertutup. Sampai di depan pintu, sejenak lelaki itu berhenti. Seperti setengah menimbang-nimbang. Tangannya setengah terangkat, antara ragu akan mengetuk pintu, ataukah langsung memutar pegangan dan mendorongnya masuk. Butuh waktu hampir 2 menit untuk memutuskan, sebelum tangannya akhirnya menyentuh pegangan, memutar dan mendorongnya. Bunyi engsel berderit sejenak mengisi keheningan. Dorongan terhenti. Lalu sejenak kemudian mendorong lagi dengan lebih pelan, seolah bunyi sekecil apapun akan menggagalkan misi kali ini.

Setengah pintu terbuka. Tak lama, seluruh pintu terbuka. Yang terlihat adalah sebuah kamar tidur. Sama dengan ruang keluarga, tetap beraliran minimalis. Cahaya remang bulan tampak sedikit menelisip dari celah-celah jendela. Jendela kaca berukuran kecil itu hanya tertutup sehelai gorden putih tipis. Sementara dari ventilasinya mengalir angin malam, hanya sedikit. Di dekatnya ada sebuah tempat tidur. Tempat teronggok tubuh tak bergerak. Seorang gadis. Masih tampak begitu muda, 20-an.

Lelaki itu berjalan mendekati tempat tidur. Melihat sekeliling mencari sesuatu. Ketemu. Lelaki itu mengarah ke pojokan, mengambil sebuah kursi plastic, mendekatkannya ke sisi tempat tidur. Sepelan mungkin. Gadis itu masih tak bergeming. Tampaknya cara si lelaki mengurangi intensitas suaranya berjalan lancar. Lelaki itu mulai duduk. Tapi diam, tak melakukan apapun lagi. Hanya memandang kearah gadis itu, menyusuri dari bawah, tubuhnya yang tertutup kain putih, perlahan ke atas, ke arah wajahnya yang tampak tenang. Tetapi pucat. Bibirnya tampak kelu.

Rambut panjang gadis itu terberai di samping kepalanya, kusut. Matanya masih terpejam, tak menyadari ada seseorang di sebelahnya. Atau mungkin tak bisa menyadari lagi.

Cukup lama lelaki itu hanya memandang wajah gadis diam itu. Semakin lama wajahnya semakin pias. Pandangannya nampak kosong, hanya terisi siluet wajah sang gadis. Sebentar kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Sangat jarang dia menitikkan air mata, tapi dalam sepi itu, hatinya terasa sedih. Tak mengeluarkan isak, dan gadis itu masih tak bergeming.

Dalam diam, lelaki itu masih duduk di samping sang gadis. Berharap gadis itu dapat bangun, tapi harapannya tak kunjung terkabul. Tangan sang lelaki sudah mulai berkeringat dingin, gelisah. Tak tahan lagi, lelaki itu mengangkat tangannya. Menyentuh ujung jari sang gadis, menyusuri hingga ke telapak, dan menggenggamnya. Tangan gadis itu terasa dingin, hingga menular ke lapisan kulit si lelaki. Kemudian lelaki itu mencoba menghangatkannya dengan kedua tangan, tak ingin tangan gadis itu membeku.

Sedetik kemudian, berubah,,,,

Mata gadis itu mengerjap-ngerjap, bulu matanya tampak mulai berdiri. Dalam genggaman, gadis itu menggerakkan jarinya, membalas genggaman itu dengan lebih erat. Dalam bibir kelunya, seulas senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. Lelaki itupun ikut tersenyum, dengan mata tetap berkaca-kaca. Matanya masih tak beralih dari wajah pucat sang gadis.

“Udah lama??” Suara lirih dari mulut sang gadis memecah sepi.

Sambil tersenyum, lelaki itu menjawab,”Belum, yang jelas tak lebih lama dari penantianmu.” Tatapannya masih ke mata gadis itu.

Mendengar itu, sang gadis tersenyum, tampak lebih manis dari sebelumnya. Wajah cantiknya perlahan menutupi wajah pucatnya.

Lelaki itu melepaskan genggamannya. Tangannya merogoh ke saku jaketnya. Sebuah kotak kecil digenggamnya. Dihadapan gadis itu, dibukanya kotak itu, mengambil benda di dalamnya. Sambil tersenyum, tangan kirinya memegang jari gadis itu, dan dengan tangan kanannya memasukkan benda itu ke jari manis sang gadis.

“Maaf butuh waktu lama untuk mengatakan ini. Maaf pula telah membuatmu menanti selama ini. Maaf juga aku ga mengatakan ini dari dulu. Dan maaf, kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi, aku hanya ingin bertanya, maukah kau menikah denganku??

Digenggamnya kembali tangan gadis itu dengan erat, seolah tak ingin melepaskan lagi. Sekilas, wajah gadis itu tampak terkejut. Urat wajahnya tampak tegang. Dalam hening, perlahan rona wajah gadis itu mencair. Kemudian, masih dalam wajah pucat dan bibir kelu, dia tersenyum. Senyum paling manis yang pernah dia berikan dan tunjukkan pada seseorang.

“Maaf…” ujar gadis itu lirih.

Bagai diguncang gempa dan disambar petir, tertimbun dalam runtuhan bangunan rumah itu, hati si lelaki beku. Tak mampu berkata apa-apa. Nalurinya segera menyuruhnya lari dari tempat itu. Berlari ke lapangan, atau ke tebing, dan berteriak sekeras-kerasnya. Ketika hatinya sedang mempertimbangkan rencana itu, gadis itu melanjutkan ucapannya.

“Maaf, kamu ga bisa nikahin aku sekarang. Maaf kalau aku sekarang membuatmu menunggu. Maaf karena kamu harus bersabar. Tapi saat ini kamu liat sendiri kan kondisiku.” Lanjut sang gadis itu.

Lelaki itu tersenyum, hatinya yang mau meledak seperti ditimpa curahan hujan deras yang mengguyur Jakarta. Hatinya banjir, banjir oleh rasa cinta yang membuncah.

Pelan, lelaki itu menoyol kepala sang gadis,”Dasar, sakit typhus aja manjanya setengah mati. Bikin orang panik aja.” Ledek si lelaki.

“Siapa suruh kamu ninggalin aku sendiri disini. 2 tahun penuh. Tapi kamu khawatirin aku kan, itu tandanya kamu cinta aku kan??” goda sang gadis, masih tersenyum.

“Yah namanya juga sekolah jauh, harus ada yang dikorbanin kan. Ntar setelah sembuh, setelah nikah, kamu ikut aku ya, kita boyong ke Aussie. Sekolahku masih kurang satu tahun lagi. Yah, iseng aja, kamu bisa jalan-jalan di sana…gimana???” Tanya sang lelaki.

Muka sang gadis memerah, dalam senyum, kepalanya mengangguk pelan. Senyum mereka saling berbalas. Genggamannya tak pernah terlepas lagi. Sampai jam-jam berikutnya. Bahkan ketika mereka lelah, dan masing-masing tidur terlelap dalam mimpi masing-masing, genggamannya tak terlepas. Cincin berhias batu lembut itu memancar lembut. Berwarna kuning, atau krem. Laksana keju matang. Cincin keju itu menyaksikan segalanya.

Di tepian pintu yang terbuka itu, mengintip 2 pasang mata, mata yang bersinar. Dengan kompak, mata itu saling memandang. Dan dalam lirih terdengar suara.

“Putri kecil kita sudah menemukan pangerannya. Dia akan segera bangun dari tidurnya, dan menjemput mimpinya. Membangun istananya sendiri, meninggalkan kita di gubuk reyot ini. Kita pasti sedih, tapi sejak dulu kita tahu, suatu saat, semua ini pasti terjadi.”

Kedua mata itu masih bersinar, berkaca-kaca, tersenyum. Dan perlahan menutup pintu tanpa suara.

“Selamat menempuh hidup baru, putriku.”

Hanya detak jam yang menyahut.

"Segurih" keju, "Semanis" coklat


Suara gaduh di sela-sela jam kosong pelajaran itu sangat menggangu. Kalau diteliti, sebenarnya suara itu hanya berpusat di dua nada, satu sopran dan satu alto. Suara cewek dan cowok. Sedangkan suara yang lain bungkam, hanya mata-mata lain yang aktif mengikuti. Entah apa lagi kali ini, sudah bukan hal yang langka kejadian ini. Sering kali terjadi sampai orang sekelas bosan mendengarnya. Tapi, pandangan mereka tak teralih, karena selalu ada aja topik baru untuk diributkan dua orang itu.

Beberapa bengong, beberapa cekikikan, beberapa serius mendengarkan, dan beberapa tidur. Yah hiburan sedikit menjelang siang ini, pikir mereka. Sebelum pulang sekolah. Sebelum disuruh mama mereka untuk mengerjakan PR, atau tidur siang.

“Heh keju bau, elo tuh yang gembul. Perut kayak bola aja dipiara…hahaha!” leceh sang cewek, sambil menepuk-nepuk perutnya sendiri. Lelaki di depannya mukanya merah padam.

“Hah iler coklat, elo ga liat perut lo sendiri. Dah kayak gentong gitu. Dah gitu gigi ompong lagi. Pantes aja ga ada cowok yang mau ma elo…haaha!” balas sang cowok ga mau kalah. Sambil meringis memamerkan barisan gigi putihnya.

“Eh keju bau, emang lo sendiri laku. Maen aja sama cowok terus, mana pernah elo ngobrol berdua ma cewek.” Sengit si cewek ga mau kalah.

Keduanya sudah memasang muka merah padam. Tak lama, bel pulang berbunyi. Keributan itu akhirnya dikalahkan oleh bunyi bel. Tak perlu dikomando, 2 orang yang ribut itu segera mundur, menuju meja masing-masing dan mengambil tasnya. Belum sempat para siswa berhamburan pulang, seorang lelaki setengah baya masuk ke ruangan. Tangannya memegang selembar kertas fotokopian.

“Eh anak-anak, tunggu sebentar. Besok kan sabtu. Seperti yang telah diagendakan, kita besok akan pergi darma wisata ke daerah hutan lindung tepi kota. Disana kita wisata, sekalian belajar. Ini ada tugas tentang tanaman yang harus kalian teliti dan kerjakan berdasarkan darma wisata itu. Ini titipan tugas dari Bu Sari, wali kelas kalian, yang hari ini sakit. Tapi insyaAlloh, besok bu Sari udah masuk dan bisa nemenin kalian jalan-jalan.” Terang pak kepala sekolah, yang segera disambut suara “Huuuuu” sekelas.

Besoknya, semua siswa sudah berkumpul di halaman sekolah. Yang ikut hanya kelas 4,5 dan 6. Para guru dan kepala sekolah sudah berbaris rapi di depan, sambil sesekali berdiskusi satu sama lain. Para siswa masih terpisah-pisah bergerombol. Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari Pak Badu, guru olahraga, yang menyuruh siswa berbaris sesuai dengan kelas masing-masing.

Setelah semua berbaris, masing-masing wali kelas berjalan ke samping kelas asuhnya. Ibu Sari, walikelas 4, sudah berdiri di samping barisan. Senyum terpancar dari wajahnya, meski agak pucat. Setelah briefing sebentar, mereka semua menaiki bus sewaan, dan perjalanan darma wisata dimulai.

Seperti biasa, 2 anak dari kelas 4 yang sudah terkenal suka ribut, duduk jauh terpisah. Hal ini sengaja dilakukan oleh bu Sari, agar kesenangan wisata ini tidak berubah menjadi perang dunia. Istilahnya, demi tercapainya kedamaian dunia. Mungkin hanya mereka berdua yang tidak menyadari hal itu. Mereka sudah terlalu sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Bu Sari dan penghuni bus pun menghela nafas lega.

Sampai di tujuan. Tempatnya adalah hutan lebat. Tetapi di pinggir-pinggir jalan yang dilalui terdapat papan nama untuk tiap pohon. Nama latin dan Indonesia. Nama latin menurut binomial nomenklatur. Dan hasilnya, anak-anak hanya melongo melihat nama-nama itu, mirip nama bintang film telenovela, batin mereka. Agak lama mereka berkeliling, dari satu pohon ke pohon yang lain. Wajah senang karena bermain, melupakan tugas yang diberikan dalam wisata itu. Paling ntar ada yang ngerjain, tinggal nyontek, begitu pikir mereka.

Setelah seharian berkeliling mereka beristirahat. Semua berkumpul. Beberapa siswa-siswi izin ke toilet. Sepertinya hal itu menular, karena berikutnya, hampir semua siswa saling susul menyusul untuk ke belakang. Tampak seorang siswi yang juga baru selesai dari toilet. Begitu berjalan sebentar, hendak menuju kembali ke tempat ngumpul, dia tertarik sesuatu. Seuntai bunga hutan yang menempel di dahan pohon. Dia petik satu, lalu dilihatnya bunga yang menempel di pohon yang lain. Siswi itu terus mencabuti bunga, mengumpulkannya dalam genggaman, sampai akhirnya dia menyadari, kakinya telah menyeretnya terlalu jauh. Dia menengok ke kiri dan ke kanan. Tak tahu arah.

Tak perlu waktu lama untuk membuat matanya berkaca-kaca. Siswi itu jongkok, menelungkupkan wajahnya dalam hangat tangannya. Isak tangis mulai terdengar. Dia takut. Anak kecil seperti dia hilang di tengah hutan. Di tengah tangisannya, terasa kepalanya ditoyol. Masih dengan wajah sembab, kepalanya terangkat. Dilihatnya seorang siswa sedang berdiri di sampingnya. Wajahnya kalem, tak berekspresi.

“heh iler coklat, ngapain nangis di sini? Cengeng banget jadi orang!” ujar siswa itu. Dia berjalan menuju sebatang pohon dan duduk bersandar di tepiannya.

Sambil mengusap air matanya, siswi itu membalas,”siapa yang nangis? Huh dasar keju bau! Ini cuma kelilipan tauk!” ucapnya dengan nada tegas. Berdiri menghampiri siswa itu. Dalam hatinya dia lega, ada orang lain di sini, dia tidak hilang, dia telah ditemukan si keju bau ini. Yah meskipun itu memalukan, tapi paling ga dia tidak jadi anak hilang.

“heh ngapain malah duduk-duduk di sini, ayo balik, ntar ketinggalan lagi.” Ajak siswi itu, buru-buru.

“ga nyadar ya. Kita ilang tauk. Gara-gara ngikutin elo sampek sini. gue juga ga tau jalan buat balik.” Sahut siswa itu dengan tenang. Matanya malah setengah terpejam.

Siswi itu kaget mendengar jawaban si keju bau. Harapannya perlahan memudar, hambar dan pupus. Predikatnya sebagai anak hilang telah kembali. Dan air matanya yang sudah berhenti, perlahan menetes lagi.

“udah jangan nangis. Mereka pasti nyadar kalo kita ilang. Ntar juga pasti dicariin. Mending nunggu aja di sini, biar ga tambah jauh.” Kata si keju bau, mulai terganggu dengan isakan si iler coklat.

Siswi itu, yang dipanggil iler coklat, beranjak mendekati keju bau. Ikut duduk di sampingnya.

“kok elo bisa ikut ilang juga???” Tanya iler coklat, setelah beberapa saat hening. Matanya masih muter-muter ke segala arah mencoba mencari jalan.

Keju bau menghela nafas,” sebenarnya tadi gue liat elo jalan, kayak asyik ngliatin apa gitu. Rencananya sih mau ngusilin elo. Tapi ternyata…”muka keju bau memerah, mengalihkan pandangannya berlawanan dengan iler coklat.

“ternyata apa???” Tanya iler coklat memperjelas, sambil tersenyum menggoda. Keju bau hanya melengos.

“ternyata elo ikut tersesat gitu, nyasar sampek sini, ilang bareng ya…hahahaha!!! Kasian…gagal deh ngerjain gue..hehehe!!” iler coklat tertawa lepas, sejenak melupakan kesedihannya.

Keju bau hanya diam. Angin semilir menerpa wajah mereka, mengabarkan suara-suara alam. Sinar mentari yang terik tak terasa, karena mereka berteduh di rindangnya pohon besar, entah pohon apa.

Krucukkkk!!! Tiba-tiba terdengar suara. Iler coklat menoleh.”suara apaan tuh??? Denger ga???” tanyanya pada keju bau, sambil memasang telinga lebar-lebar.

Keju bau hanya diam. Tiba-tiba, krucukkk-krucukkk!!! Terdengar suara lebih keras. Iler coklat menengok pada keju bau,”itu suara perut elo ya???” tanyanya memastikan.

“HAHAHAHA…!!!”keju bau terbahak-bahak, mukanya keliatan memerah.

“ihh jorok. Laper lu???” iler coklat menghentikan aksi penasarannya pada suara itu.

“kayaknya dah siang neh, dah laper. Makan yuksss!!!” ujar keju bau sambil membuka tasnya, mengeluarkan bekal dalam wadah kotak. Dibukanya kotak itu, tampak makaroni keju ukuran besar.”elo bawa bekal ga???” Tanya keju bau.

“bawa kok.” Jawab iler coklat singkat. Iler coklat ikut mengeluarkan bekalnya, hanya berisi roti tawar yang dilapisi selai coklat.

Mereka kembali diam, sibuk makan bekal masing-masing. Dalam sekejap bekal iler coklat ludes, karena laper campur sedih, panik, takut, berefek pada kuantitas makannya. Entah sebenarnya berpengaruh atau tidak. Keju bau melirik iler coklat, lalu dipotongnya makaroni kejunya menjadi 2, menyendok bagian besarnya, dan mengalihkannya ke tempat bekal iler coklat.

“Makannya jangan cuma sedikit, kita tu ilang, jadi harus punya banyak tenaga, buat lari, manjat kalo ada hewan buas. Pikirin itu.” Ucap keju bau. Iler coklat terharu mendengar kata-kata keju bau. Diterimanya uluran tangan keju bau itu, dan menyendoknya ke dalam mulut.

“ga nyangka, elo baik ya…”ucap iler coklat lirih.

“sebenarnya, alasan utamanya karena ini hutan, pasti banyak binatang buas. Kalo mereka makan, pasti yang dipilih yang gemuk, banyak dagingnya. Kalo elu banyak makan kan jadi gemuk, tembem gitu, pasti elu yang dipilih jadi korban. Sementara gue doain elu dari atas pohon…hahaha!!!” keju bau tertawa lepas.

“ihhh…jahat!!” dipukulnya bahu keju bau pelan. Tapi tak pelak lagi, sebentar kemudian iler coklat ikut tertawa juga.

“kenapa sih elo suka banget ma keju???” Tanya iler coklat, selepas tawanya usai.

Keju bahu menengok, menatap iler coklat,”mungkin sama kayak alasan elo suka banget sama coklat.” Jawab keju bahu, tersenyum.

Iler coklat balas tersenyum.

Setelah kenyang, dihibur semilir angin, mereka mulai mengantuk. Obrolan yang jarang terjadi itu menumbuhkan keakraban di hati mereka. Sambil setengah terpejam, iler coklat berkata,”ternyata, coklat jika dimakan bareng dengan keju, rasanya enak ya. Kolaborasi yang menarik.”

Keju bau mengangguk pelan,”ya, gue juga ngrasa gitu…”

Mata mereka terpejam. Kepala iler coklat menyandar di bahu keju bau, dan kepala keju bau menyandar di kepala iler coklat.

“ya Alloh…bangun!!!bangun!!!” sebuah suara membangunkan mereka dari mimpi siang bolong. Dihadapan mereka telah ada Bapak Kepala Sekolah, bu Sari, dan beberapa guru yang lain beserta penjaga hutan lindung.

“syukurlah kalian baik-baik saja. Bapak takut kalian kenapa-napa.” Ucap kepala sekolah sambil jongkok di depan mereka. Sementara bu Sari, wali kelas mereka, memeluk mereka erat. Matanya sembab. Meninggalkan bekas air mata yang pernah jatuh. Keju bau dan iler coklat pun terharu. Mereka minta maaf pada kepala sekolah dan guru-guru karena telah bandel main sampai tersesat.

Setelah itu, rombongan itu turun menuju arah parkiran bus, tempat teman-teman mereka menunggu. Dalam perjalanan itu, tak banyak yang berbicara. Keju bau dan iler coklat berjalan beriringan, di belakang ronbongan. Dalam hening, tangan mereka terpaut. Menggengam satu sama lain.

Dan merasa, tak ada yang perlu berbicara.