DADU

DADU
Rasakan, engkau punya banyak pilihan....

Kamis, 23 Desember 2010

Mati Kutu


Aku tahu engkau dulu berpijar. Engkaulah yang kasat di sudut mata. Sampai akhirnya aku datang. Aku menyeruak diantara harimu. Lalu engkau terbiasa denganku. Aku dan kamu sama. Kita terlalu bertaruh pada takdir. Kita berjudi dengannya, seolah kita berkuasa. Engkau melena, dan aku terlena. Aku masuk perlahan, dan dalam diam aku tergoda.

Engkau masih tetap berpijar, setiap waktu. Engkau membuatku melihat bayangan menjadi indah. Aku tahu, aku tertipu. Tapi aku menikmatinya. Aku takut salah, tapi aku menganggap semua benar. Engkau tertawa dan aku tersenyum.

Lalu tiba-tiba aku mengucap kata berakhir. Engkau kaget dan berair mata. Aku kasihan, tapi tak berbelok. Dalam sekejap keindahan yang kulihat dulu membuatku jijik. Aku merinding dalam malam, berselimut terpejam dan ketakutan. Aku tahu kau menderita, tanpa kau tahu aku sekarat. Engkau ucap beribu kata pembenaran, engkau ungkit segala memori hilang, engkau nyalakan alasan tentang harapan. Tapi aku muak.

Bukan, bukan padamu, hanya padaku. Engkau tak salah, aku merutuki diri sendiri. Engkau berlutut di depanku, yang dengan lembut tapi menyiksa, kubuat kau terjatuh. Engkau terpuruk, tapi tak padam. Aku kenal kamu. Seiring waktu, kamu akan berpijar.

Jangan mengatakan takdir, karena berjudi dengannya, engkau bisa mati. Kau akan mati kutu dibuatnya.

Hujan di Minggu Pagi


Aku menyukai hujan di minggu pagi

Aku merindunya seperti aku merindumu


Aku menyukai belaiannya di pagi yang membuatku terlelap

Aku menikmatinya karena lelapku memimpimu


Aku menggilai aroma tanah yang terguyur hujan pagi

Yang semakin tak membangunkanku dalam bayangmu


Ketika aku terbangun tak pernah kudapati engkau

Ketika kubuka mata wujudmu jadi tak kasat

Sejumput bayanganmu pun acuh

Tak pernah kudapat

Tak kutemukan

Lalu yang ada hanya wajahku tertunduk

Bersama air mata

Sejenak kulelap lagi

Berharap kau ada di sisiku


Atau aku yang tak menyadari, kau telah ada di sisiku


Bersamaku, menikmati hujan di minggu pagi

Senin, 13 Desember 2010

Cincin Keju


Lelaki itu menaiki tangga perlahan. Detak sepatunya hampir tak terdengar. Sangat lirih. Seolah pencuri yang takut tertangkap satpam. Tangga itu mengarah ke lantai dua. Di bawahnya, tampak ruang keluarga yang bergaya minimalis. Hanya ada sofa dan seperangkat tv plus sound system. Di ujung tangga atas, di sisinya tampak vas tinggi berisi bunga yang panjang menjuntai. Entah apalah namanya. Entah asli atau juga replika. Tak begitu memperhatikan, karena bukan itu tujuan lelaki itu naik ke atas.

Sampai di lantai dua. Arah tubuhnya segera berubah kearah sebuah pintu yang tertutup. Sampai di depan pintu, sejenak lelaki itu berhenti. Seperti setengah menimbang-nimbang. Tangannya setengah terangkat, antara ragu akan mengetuk pintu, ataukah langsung memutar pegangan dan mendorongnya masuk. Butuh waktu hampir 2 menit untuk memutuskan, sebelum tangannya akhirnya menyentuh pegangan, memutar dan mendorongnya. Bunyi engsel berderit sejenak mengisi keheningan. Dorongan terhenti. Lalu sejenak kemudian mendorong lagi dengan lebih pelan, seolah bunyi sekecil apapun akan menggagalkan misi kali ini.

Setengah pintu terbuka. Tak lama, seluruh pintu terbuka. Yang terlihat adalah sebuah kamar tidur. Sama dengan ruang keluarga, tetap beraliran minimalis. Cahaya remang bulan tampak sedikit menelisip dari celah-celah jendela. Jendela kaca berukuran kecil itu hanya tertutup sehelai gorden putih tipis. Sementara dari ventilasinya mengalir angin malam, hanya sedikit. Di dekatnya ada sebuah tempat tidur. Tempat teronggok tubuh tak bergerak. Seorang gadis. Masih tampak begitu muda, 20-an.

Lelaki itu berjalan mendekati tempat tidur. Melihat sekeliling mencari sesuatu. Ketemu. Lelaki itu mengarah ke pojokan, mengambil sebuah kursi plastic, mendekatkannya ke sisi tempat tidur. Sepelan mungkin. Gadis itu masih tak bergeming. Tampaknya cara si lelaki mengurangi intensitas suaranya berjalan lancar. Lelaki itu mulai duduk. Tapi diam, tak melakukan apapun lagi. Hanya memandang kearah gadis itu, menyusuri dari bawah, tubuhnya yang tertutup kain putih, perlahan ke atas, ke arah wajahnya yang tampak tenang. Tetapi pucat. Bibirnya tampak kelu.

Rambut panjang gadis itu terberai di samping kepalanya, kusut. Matanya masih terpejam, tak menyadari ada seseorang di sebelahnya. Atau mungkin tak bisa menyadari lagi.

Cukup lama lelaki itu hanya memandang wajah gadis diam itu. Semakin lama wajahnya semakin pias. Pandangannya nampak kosong, hanya terisi siluet wajah sang gadis. Sebentar kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Sangat jarang dia menitikkan air mata, tapi dalam sepi itu, hatinya terasa sedih. Tak mengeluarkan isak, dan gadis itu masih tak bergeming.

Dalam diam, lelaki itu masih duduk di samping sang gadis. Berharap gadis itu dapat bangun, tapi harapannya tak kunjung terkabul. Tangan sang lelaki sudah mulai berkeringat dingin, gelisah. Tak tahan lagi, lelaki itu mengangkat tangannya. Menyentuh ujung jari sang gadis, menyusuri hingga ke telapak, dan menggenggamnya. Tangan gadis itu terasa dingin, hingga menular ke lapisan kulit si lelaki. Kemudian lelaki itu mencoba menghangatkannya dengan kedua tangan, tak ingin tangan gadis itu membeku.

Sedetik kemudian, berubah,,,,

Mata gadis itu mengerjap-ngerjap, bulu matanya tampak mulai berdiri. Dalam genggaman, gadis itu menggerakkan jarinya, membalas genggaman itu dengan lebih erat. Dalam bibir kelunya, seulas senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. Lelaki itupun ikut tersenyum, dengan mata tetap berkaca-kaca. Matanya masih tak beralih dari wajah pucat sang gadis.

“Udah lama??” Suara lirih dari mulut sang gadis memecah sepi.

Sambil tersenyum, lelaki itu menjawab,”Belum, yang jelas tak lebih lama dari penantianmu.” Tatapannya masih ke mata gadis itu.

Mendengar itu, sang gadis tersenyum, tampak lebih manis dari sebelumnya. Wajah cantiknya perlahan menutupi wajah pucatnya.

Lelaki itu melepaskan genggamannya. Tangannya merogoh ke saku jaketnya. Sebuah kotak kecil digenggamnya. Dihadapan gadis itu, dibukanya kotak itu, mengambil benda di dalamnya. Sambil tersenyum, tangan kirinya memegang jari gadis itu, dan dengan tangan kanannya memasukkan benda itu ke jari manis sang gadis.

“Maaf butuh waktu lama untuk mengatakan ini. Maaf pula telah membuatmu menanti selama ini. Maaf juga aku ga mengatakan ini dari dulu. Dan maaf, kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi, aku hanya ingin bertanya, maukah kau menikah denganku??

Digenggamnya kembali tangan gadis itu dengan erat, seolah tak ingin melepaskan lagi. Sekilas, wajah gadis itu tampak terkejut. Urat wajahnya tampak tegang. Dalam hening, perlahan rona wajah gadis itu mencair. Kemudian, masih dalam wajah pucat dan bibir kelu, dia tersenyum. Senyum paling manis yang pernah dia berikan dan tunjukkan pada seseorang.

“Maaf…” ujar gadis itu lirih.

Bagai diguncang gempa dan disambar petir, tertimbun dalam runtuhan bangunan rumah itu, hati si lelaki beku. Tak mampu berkata apa-apa. Nalurinya segera menyuruhnya lari dari tempat itu. Berlari ke lapangan, atau ke tebing, dan berteriak sekeras-kerasnya. Ketika hatinya sedang mempertimbangkan rencana itu, gadis itu melanjutkan ucapannya.

“Maaf, kamu ga bisa nikahin aku sekarang. Maaf kalau aku sekarang membuatmu menunggu. Maaf karena kamu harus bersabar. Tapi saat ini kamu liat sendiri kan kondisiku.” Lanjut sang gadis itu.

Lelaki itu tersenyum, hatinya yang mau meledak seperti ditimpa curahan hujan deras yang mengguyur Jakarta. Hatinya banjir, banjir oleh rasa cinta yang membuncah.

Pelan, lelaki itu menoyol kepala sang gadis,”Dasar, sakit typhus aja manjanya setengah mati. Bikin orang panik aja.” Ledek si lelaki.

“Siapa suruh kamu ninggalin aku sendiri disini. 2 tahun penuh. Tapi kamu khawatirin aku kan, itu tandanya kamu cinta aku kan??” goda sang gadis, masih tersenyum.

“Yah namanya juga sekolah jauh, harus ada yang dikorbanin kan. Ntar setelah sembuh, setelah nikah, kamu ikut aku ya, kita boyong ke Aussie. Sekolahku masih kurang satu tahun lagi. Yah, iseng aja, kamu bisa jalan-jalan di sana…gimana???” Tanya sang lelaki.

Muka sang gadis memerah, dalam senyum, kepalanya mengangguk pelan. Senyum mereka saling berbalas. Genggamannya tak pernah terlepas lagi. Sampai jam-jam berikutnya. Bahkan ketika mereka lelah, dan masing-masing tidur terlelap dalam mimpi masing-masing, genggamannya tak terlepas. Cincin berhias batu lembut itu memancar lembut. Berwarna kuning, atau krem. Laksana keju matang. Cincin keju itu menyaksikan segalanya.

Di tepian pintu yang terbuka itu, mengintip 2 pasang mata, mata yang bersinar. Dengan kompak, mata itu saling memandang. Dan dalam lirih terdengar suara.

“Putri kecil kita sudah menemukan pangerannya. Dia akan segera bangun dari tidurnya, dan menjemput mimpinya. Membangun istananya sendiri, meninggalkan kita di gubuk reyot ini. Kita pasti sedih, tapi sejak dulu kita tahu, suatu saat, semua ini pasti terjadi.”

Kedua mata itu masih bersinar, berkaca-kaca, tersenyum. Dan perlahan menutup pintu tanpa suara.

“Selamat menempuh hidup baru, putriku.”

Hanya detak jam yang menyahut.

"Segurih" keju, "Semanis" coklat


Suara gaduh di sela-sela jam kosong pelajaran itu sangat menggangu. Kalau diteliti, sebenarnya suara itu hanya berpusat di dua nada, satu sopran dan satu alto. Suara cewek dan cowok. Sedangkan suara yang lain bungkam, hanya mata-mata lain yang aktif mengikuti. Entah apa lagi kali ini, sudah bukan hal yang langka kejadian ini. Sering kali terjadi sampai orang sekelas bosan mendengarnya. Tapi, pandangan mereka tak teralih, karena selalu ada aja topik baru untuk diributkan dua orang itu.

Beberapa bengong, beberapa cekikikan, beberapa serius mendengarkan, dan beberapa tidur. Yah hiburan sedikit menjelang siang ini, pikir mereka. Sebelum pulang sekolah. Sebelum disuruh mama mereka untuk mengerjakan PR, atau tidur siang.

“Heh keju bau, elo tuh yang gembul. Perut kayak bola aja dipiara…hahaha!” leceh sang cewek, sambil menepuk-nepuk perutnya sendiri. Lelaki di depannya mukanya merah padam.

“Hah iler coklat, elo ga liat perut lo sendiri. Dah kayak gentong gitu. Dah gitu gigi ompong lagi. Pantes aja ga ada cowok yang mau ma elo…haaha!” balas sang cowok ga mau kalah. Sambil meringis memamerkan barisan gigi putihnya.

“Eh keju bau, emang lo sendiri laku. Maen aja sama cowok terus, mana pernah elo ngobrol berdua ma cewek.” Sengit si cewek ga mau kalah.

Keduanya sudah memasang muka merah padam. Tak lama, bel pulang berbunyi. Keributan itu akhirnya dikalahkan oleh bunyi bel. Tak perlu dikomando, 2 orang yang ribut itu segera mundur, menuju meja masing-masing dan mengambil tasnya. Belum sempat para siswa berhamburan pulang, seorang lelaki setengah baya masuk ke ruangan. Tangannya memegang selembar kertas fotokopian.

“Eh anak-anak, tunggu sebentar. Besok kan sabtu. Seperti yang telah diagendakan, kita besok akan pergi darma wisata ke daerah hutan lindung tepi kota. Disana kita wisata, sekalian belajar. Ini ada tugas tentang tanaman yang harus kalian teliti dan kerjakan berdasarkan darma wisata itu. Ini titipan tugas dari Bu Sari, wali kelas kalian, yang hari ini sakit. Tapi insyaAlloh, besok bu Sari udah masuk dan bisa nemenin kalian jalan-jalan.” Terang pak kepala sekolah, yang segera disambut suara “Huuuuu” sekelas.

Besoknya, semua siswa sudah berkumpul di halaman sekolah. Yang ikut hanya kelas 4,5 dan 6. Para guru dan kepala sekolah sudah berbaris rapi di depan, sambil sesekali berdiskusi satu sama lain. Para siswa masih terpisah-pisah bergerombol. Tak lama kemudian, terdengar suara tegas dari Pak Badu, guru olahraga, yang menyuruh siswa berbaris sesuai dengan kelas masing-masing.

Setelah semua berbaris, masing-masing wali kelas berjalan ke samping kelas asuhnya. Ibu Sari, walikelas 4, sudah berdiri di samping barisan. Senyum terpancar dari wajahnya, meski agak pucat. Setelah briefing sebentar, mereka semua menaiki bus sewaan, dan perjalanan darma wisata dimulai.

Seperti biasa, 2 anak dari kelas 4 yang sudah terkenal suka ribut, duduk jauh terpisah. Hal ini sengaja dilakukan oleh bu Sari, agar kesenangan wisata ini tidak berubah menjadi perang dunia. Istilahnya, demi tercapainya kedamaian dunia. Mungkin hanya mereka berdua yang tidak menyadari hal itu. Mereka sudah terlalu sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Bu Sari dan penghuni bus pun menghela nafas lega.

Sampai di tujuan. Tempatnya adalah hutan lebat. Tetapi di pinggir-pinggir jalan yang dilalui terdapat papan nama untuk tiap pohon. Nama latin dan Indonesia. Nama latin menurut binomial nomenklatur. Dan hasilnya, anak-anak hanya melongo melihat nama-nama itu, mirip nama bintang film telenovela, batin mereka. Agak lama mereka berkeliling, dari satu pohon ke pohon yang lain. Wajah senang karena bermain, melupakan tugas yang diberikan dalam wisata itu. Paling ntar ada yang ngerjain, tinggal nyontek, begitu pikir mereka.

Setelah seharian berkeliling mereka beristirahat. Semua berkumpul. Beberapa siswa-siswi izin ke toilet. Sepertinya hal itu menular, karena berikutnya, hampir semua siswa saling susul menyusul untuk ke belakang. Tampak seorang siswi yang juga baru selesai dari toilet. Begitu berjalan sebentar, hendak menuju kembali ke tempat ngumpul, dia tertarik sesuatu. Seuntai bunga hutan yang menempel di dahan pohon. Dia petik satu, lalu dilihatnya bunga yang menempel di pohon yang lain. Siswi itu terus mencabuti bunga, mengumpulkannya dalam genggaman, sampai akhirnya dia menyadari, kakinya telah menyeretnya terlalu jauh. Dia menengok ke kiri dan ke kanan. Tak tahu arah.

Tak perlu waktu lama untuk membuat matanya berkaca-kaca. Siswi itu jongkok, menelungkupkan wajahnya dalam hangat tangannya. Isak tangis mulai terdengar. Dia takut. Anak kecil seperti dia hilang di tengah hutan. Di tengah tangisannya, terasa kepalanya ditoyol. Masih dengan wajah sembab, kepalanya terangkat. Dilihatnya seorang siswa sedang berdiri di sampingnya. Wajahnya kalem, tak berekspresi.

“heh iler coklat, ngapain nangis di sini? Cengeng banget jadi orang!” ujar siswa itu. Dia berjalan menuju sebatang pohon dan duduk bersandar di tepiannya.

Sambil mengusap air matanya, siswi itu membalas,”siapa yang nangis? Huh dasar keju bau! Ini cuma kelilipan tauk!” ucapnya dengan nada tegas. Berdiri menghampiri siswa itu. Dalam hatinya dia lega, ada orang lain di sini, dia tidak hilang, dia telah ditemukan si keju bau ini. Yah meskipun itu memalukan, tapi paling ga dia tidak jadi anak hilang.

“heh ngapain malah duduk-duduk di sini, ayo balik, ntar ketinggalan lagi.” Ajak siswi itu, buru-buru.

“ga nyadar ya. Kita ilang tauk. Gara-gara ngikutin elo sampek sini. gue juga ga tau jalan buat balik.” Sahut siswa itu dengan tenang. Matanya malah setengah terpejam.

Siswi itu kaget mendengar jawaban si keju bau. Harapannya perlahan memudar, hambar dan pupus. Predikatnya sebagai anak hilang telah kembali. Dan air matanya yang sudah berhenti, perlahan menetes lagi.

“udah jangan nangis. Mereka pasti nyadar kalo kita ilang. Ntar juga pasti dicariin. Mending nunggu aja di sini, biar ga tambah jauh.” Kata si keju bau, mulai terganggu dengan isakan si iler coklat.

Siswi itu, yang dipanggil iler coklat, beranjak mendekati keju bau. Ikut duduk di sampingnya.

“kok elo bisa ikut ilang juga???” Tanya iler coklat, setelah beberapa saat hening. Matanya masih muter-muter ke segala arah mencoba mencari jalan.

Keju bau menghela nafas,” sebenarnya tadi gue liat elo jalan, kayak asyik ngliatin apa gitu. Rencananya sih mau ngusilin elo. Tapi ternyata…”muka keju bau memerah, mengalihkan pandangannya berlawanan dengan iler coklat.

“ternyata apa???” Tanya iler coklat memperjelas, sambil tersenyum menggoda. Keju bau hanya melengos.

“ternyata elo ikut tersesat gitu, nyasar sampek sini, ilang bareng ya…hahahaha!!! Kasian…gagal deh ngerjain gue..hehehe!!” iler coklat tertawa lepas, sejenak melupakan kesedihannya.

Keju bau hanya diam. Angin semilir menerpa wajah mereka, mengabarkan suara-suara alam. Sinar mentari yang terik tak terasa, karena mereka berteduh di rindangnya pohon besar, entah pohon apa.

Krucukkkk!!! Tiba-tiba terdengar suara. Iler coklat menoleh.”suara apaan tuh??? Denger ga???” tanyanya pada keju bau, sambil memasang telinga lebar-lebar.

Keju bau hanya diam. Tiba-tiba, krucukkk-krucukkk!!! Terdengar suara lebih keras. Iler coklat menengok pada keju bau,”itu suara perut elo ya???” tanyanya memastikan.

“HAHAHAHA…!!!”keju bau terbahak-bahak, mukanya keliatan memerah.

“ihh jorok. Laper lu???” iler coklat menghentikan aksi penasarannya pada suara itu.

“kayaknya dah siang neh, dah laper. Makan yuksss!!!” ujar keju bau sambil membuka tasnya, mengeluarkan bekal dalam wadah kotak. Dibukanya kotak itu, tampak makaroni keju ukuran besar.”elo bawa bekal ga???” Tanya keju bau.

“bawa kok.” Jawab iler coklat singkat. Iler coklat ikut mengeluarkan bekalnya, hanya berisi roti tawar yang dilapisi selai coklat.

Mereka kembali diam, sibuk makan bekal masing-masing. Dalam sekejap bekal iler coklat ludes, karena laper campur sedih, panik, takut, berefek pada kuantitas makannya. Entah sebenarnya berpengaruh atau tidak. Keju bau melirik iler coklat, lalu dipotongnya makaroni kejunya menjadi 2, menyendok bagian besarnya, dan mengalihkannya ke tempat bekal iler coklat.

“Makannya jangan cuma sedikit, kita tu ilang, jadi harus punya banyak tenaga, buat lari, manjat kalo ada hewan buas. Pikirin itu.” Ucap keju bau. Iler coklat terharu mendengar kata-kata keju bau. Diterimanya uluran tangan keju bau itu, dan menyendoknya ke dalam mulut.

“ga nyangka, elo baik ya…”ucap iler coklat lirih.

“sebenarnya, alasan utamanya karena ini hutan, pasti banyak binatang buas. Kalo mereka makan, pasti yang dipilih yang gemuk, banyak dagingnya. Kalo elu banyak makan kan jadi gemuk, tembem gitu, pasti elu yang dipilih jadi korban. Sementara gue doain elu dari atas pohon…hahaha!!!” keju bau tertawa lepas.

“ihhh…jahat!!” dipukulnya bahu keju bau pelan. Tapi tak pelak lagi, sebentar kemudian iler coklat ikut tertawa juga.

“kenapa sih elo suka banget ma keju???” Tanya iler coklat, selepas tawanya usai.

Keju bahu menengok, menatap iler coklat,”mungkin sama kayak alasan elo suka banget sama coklat.” Jawab keju bahu, tersenyum.

Iler coklat balas tersenyum.

Setelah kenyang, dihibur semilir angin, mereka mulai mengantuk. Obrolan yang jarang terjadi itu menumbuhkan keakraban di hati mereka. Sambil setengah terpejam, iler coklat berkata,”ternyata, coklat jika dimakan bareng dengan keju, rasanya enak ya. Kolaborasi yang menarik.”

Keju bau mengangguk pelan,”ya, gue juga ngrasa gitu…”

Mata mereka terpejam. Kepala iler coklat menyandar di bahu keju bau, dan kepala keju bau menyandar di kepala iler coklat.

“ya Alloh…bangun!!!bangun!!!” sebuah suara membangunkan mereka dari mimpi siang bolong. Dihadapan mereka telah ada Bapak Kepala Sekolah, bu Sari, dan beberapa guru yang lain beserta penjaga hutan lindung.

“syukurlah kalian baik-baik saja. Bapak takut kalian kenapa-napa.” Ucap kepala sekolah sambil jongkok di depan mereka. Sementara bu Sari, wali kelas mereka, memeluk mereka erat. Matanya sembab. Meninggalkan bekas air mata yang pernah jatuh. Keju bau dan iler coklat pun terharu. Mereka minta maaf pada kepala sekolah dan guru-guru karena telah bandel main sampai tersesat.

Setelah itu, rombongan itu turun menuju arah parkiran bus, tempat teman-teman mereka menunggu. Dalam perjalanan itu, tak banyak yang berbicara. Keju bau dan iler coklat berjalan beriringan, di belakang ronbongan. Dalam hening, tangan mereka terpaut. Menggengam satu sama lain.

Dan merasa, tak ada yang perlu berbicara.

Selasa, 10 Agustus 2010

ngantuk...


Kalaupun langit mengembangkan sayap hitamnya malam ini
Itu karena ada bintang yang dipeluknya
Kalaupun lampu jalanan masih menyala terang

Itu karena masih ada arah yang harus ditunjukinya

Sedang aku?

Tak ada alasan pembenaran untuk tak beranjak

Karena terpaksa…ah klasik

Kalaupun tempat ini begitu persuasif

Maka aku tergolong makhluk yang terhindar dari sifat magnetisnya…

Antigravitasi…

Berarti hampa…
Sehampa malam ini…

Tak mau kumenunggu
Karena tak ada pula yang sedang menungguku…

*efek lembur nungguin rapat…ketika tulisan ini selesai jam baru menunjukkan pukul 23.37… Dan tak tau rapat ini akan berakhir kapan…rasanya sebentar lagi mataku harus segera diarsipkan, dimasukkan dalam dosir, dikunci dalam gelapnya filling cabinet… Terasa hangat…*