DADU

DADU
Rasakan, engkau punya banyak pilihan....

Kamis, 10 Mei 2012

41%



Terkadang aku terkesan dengan caramu berbicara. Terkadang dengan caramu berinteraksi. Memapahku dengan tertatih mendekatimu. Menjadi penguntitmu yang bahkan tak berani bertatap muka, apalagi berpapasan denganmu. Seperti bintang yang bersimbiosis dengan bulan, aku berteman dengan bayangan. Dengan diriku yang lain.

Aku malu. Tak berani.

Aku tak serupa dengan Ronin, yang akan bunuh diri jika gagal. Bermain dengan Harakiri. Aku bahkan tak termotivasi untuk merenggutmu. Selalu cukup mendengar celotehmu membanjiri riak dahagaku. Lantas jangan kau anggap aku akan memperjuangkanmu. Yang mengeksekusi semudah menekan tombol Enter, atau malah mencabut kabel power. Aku tak pernah terkoneksi dengan begitu detail, aku hanya menayangkanmu dalam proyektor yang semakin tua di otak bebalku.

Siapa yang tahu kau menunggu?

Aku pun tidak. Bahkan imajinasi fiksi kelas tinggi manusia pun tak mampu mengarang ceritanya. Yang menggebu-gebu ingin terlepas, terbebas dari sayap-sayap cengkeraman. Yang ada hanya aku yang kalut, menunggu cerita ini akan berujung dimana?

Dengan siapa?

Yang selalu terlonjak tatkala dering riang ponsel memanggil, berharap ejaanmu akan memenuhi halamannya. Yang semua hanya sebatas mimpi tak bertuan. Seperti mimpi mengharap kancil akan berteman akrab dengan pak tani. Menyelubungi antara cita-cita dan mimpi, yang definisinya pun bahkan semakin mengabur.

“Mungkin karena kau dianggap bijaksana?”

Nun jauh disana kata-kata itu pernah membungaiku. Memberi sensasi terbang, seperti potongan roket yang melingkar di Saturnus. Mengekangnya, tapi indah dilihat orang lain. Lalu sayangnya, tak ada yang menikmatinya, karena dia jauh, sekali lagi dia tak di depan kita.

Entah butuh berapa hari, bulan atau tahun, saat aku menyadari itu retoris, tak butuh komentar atau pengakuan. Itu hanya propaganda, mencumbui benakku dengan kata-kata “Sungguh?” atau “Ah yang benar?”. Lalu semua hilang. Selenyap engkau dari sini, dari yang tak pernah kumiliki.

Ada yang salah kalau aku berharap?

Kau hanya bersikap seperti burung murai kecil yang hinggap di hijau daun, tapi tak memakannya. Hanya menemani riuh angin dan umpatan kasar petani akibat bebalnya dunia, yang tak juga mau menundukkan wajah padanya. Aku hanya menutupinya dengan senyum palsu, gelak tawa, dan akting misterius. Seharusnya aku mempertanyakan, kenapa kau tak penasaran padaku? Apa aktingku kurang bagus? Mungkin. Aku hanya aktor gagal, sekelas figuran picisan yang sekelebat terlihat lalu tertelan masa. Tak pernah bias menembus dunia.

Tapi kalau kupikir, salah tak bisa kulimpahkan semua padamu. Secara hitungan matematisku, kesalahanmu adalah 10%, mimpi 30%, dunia 20% dan aku 40%. Kesalahanmu hanyalah membiarkanku berharap, yang menjadikanku berival dengan Merapi yang meletup-letupkan lava, yang tak kunjung meledak. Lalu mimpi menjebakku dalam ruang tidur yang sama dengan Putri Salju, menunggu pangeran impian untuk membangunkannya. Dia bahagia selamanya, dan aku membuka mata. Saat itulah yang kulihat hanya kenyataan. Cukup di situ.

 Lalu apa intervensi dunia? Ayolah, mari berpikir sedikit sarkastik. Siapa lagi yang pantas disalahkan selain aku dan kamu. Takdir? Dia hanya pijar tak terlihat. Orang lain? Mereka hanya lilin yang telah padam. Dunia? Bukankah dunia memang kejam. Butuh alasan lagi? Kuharap tidak.

Lalu semua berujung pada satu kesimpulan. Aku yang salah? Salah mengeja tanda. Salah mendefinisikan rasa. Salah membangunkan mimpi.

“never mind I’ll find, someone like you...”

Bisakah aku hidup dengan sebait kata itu. Berarti, besok pagi, saat bangun tidur, aku mulai membohongi hati lagi. Dan catat, itu sama dengan satu kesalahan lagi.

= 41%

Senin, 07 Mei 2012

Pencuri Petir (Percy Jackson and the Olympians, #1)Pencuri Petir by Rick Riordan
My rating: 4 of 5 stars

untuk orang yang ga gitu paham mitologi yunani, saya bisa lancar mengikuti alur cerita dan tokoh-tokoh di buku ini. ceritanya seru. PErcy penuh keberuntungan banget sih ya, tiap kalah selalu aja ada yang nolongin atau ada air, jadi selamet deh. kecuali di endingnya, pas kena racun dari Luke yang berkhianat. hampir matinya ya disitu doank..hoho!

berkisah tentang seorang anak yg bernama Percy Jackson, yang mengalami banyak masalah di sekolahnya, lebih karena disleksia yang dideritanya dan tingkah lakunya yang tak terkontrol. dan ternyata itu bukanlah penyakit biasa, melainkan suatu tanda bahwa dia adalah seorang blasteran alias setengah dewa.

selanjutnya petualangan dimulai, mulai dari diserangnya Percy secara tiba-tiba oleh monster, masuk ke perkemahan blasteran, menerima misi mencari petir asali (milik Zeus) untuk mencegah perang dunia 3 (antara Zeus, Poseidon dan Hades), menerima ramalan, menjalin persahabatan dan pengkhianatan, dan lainnya yg akhirnya berending bahagia.

yah begitulah, buku ini sangat menghibur. untung belum nonton yang movienya, yang katanya kurang bagus dibanding novelnya. pengen baca yang selanjutnya....^^

View all my reviews

Jumat, 04 Mei 2012

Anak Kos Dodol TamatAnak Kos Dodol Tamat by Dewi Rieka
My rating: 3 of 5 stars

yups..berhubung di perpus adanya cuma yg edisi tamat, ya sudahlah baca yg ada aja. untung buku ini sepertinya tidak terkait satu sama lain. apalagi ini buku semacam kumpulan pengalaman pribadi, sehingga tiap subjudul selalu beda-beda.

review apa ya, menghibur pokoknya. bacanya rileks, enak diikuti. ya meskipun di sana-sini ada obrolan yg berbahasa jawa, tapi masih kumengerti (ya iyalah, lha wong aku juga dari jawa timur!!!), tapi mungkin agak menyulitkan untuk yg tak mengerti bahasa jawa.

gitu aja deh, 3 bintang buatmu mbak dedew...!!! ^^

View all my reviews

Rabu, 02 Mei 2012

Perempuan Tanpa Tanda Jasa


Nenek Arma namanya, 57 tahun, sedang memandangi selembar foto kusam. Foto berisi 3 perempuan, dengan ciri senyum yang berbeda. Masing-masing menggambarkan perasaan yang berlainan, tapi saling terpaut dalam lembaran foto itu. Entah sejak kapan foto itu diambil, Nenek Arma tak lagi ingat. Usia telah menggerogoti memorinya sedemikian rupa, menyisakan sedikit celah hanya untuk mengingat namanya sendiri, serta umurnya.
***
“Arma..ayo cepat dikumpulkan, waktu sudah habis!” dari arah depan bu guru berteriak. Sementara anak-anak yang lain telah menyetorkan kembali lembar ujian pada bu guru, lantas berbalik menuju meja masing-masing. Berbagai ekspresi tergambar di sana, beberapa lega, beberapa tersenyum, tapi lebih banyak yang mengeluh. Belum puas dengan kinerjanya sendiri.
“Arma!!” teriak bu guru lagi. Arma hanya mendongak sekilas, tersenyum kecut. Sebentar lagi ya bu, batin Arma. Kembali menulis.
“kalau ada yang belum mengumpulkan sekarang, ujiannya tidak ibu nilai. Selamat siang!” bu guru merapikan mejanya, mulai beranjak meninggalkan ruang kelas.
“Sebentar buuu...!” Arma berteriak sekencang mungkin, tergopoh-gopoh berlari menghampiri bu Guru yang baru sampai di ujung daun pintu. “Hehe..ini Bu!” Arma menyodorkan lembar ujiannya, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bu guru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah biasa, Arma selalu terakhir menyetorkan lembar ujian. Entah apa yang dilakukannya sebelumnya. Tapi paling tidak, Arma selalu mendapat nilai bagus. Jadi Bu guru masih bisa menolerir sikap Arma.
Bu guru beranjak keluar. “makasih Bu...” ucap Arma, sambil melambaikan tangan. Arma menghembuskan nafas lega, kembali ke mejanya. Diliriknya benda di bawah meja, sebuah novel. Bahkan saat ujianpun disempatkannya membaca, nanggung, sampai kelupaan kalau ada beberapa soal ujian yang belum dikerjakannya. Bel pulang berbunyi, suara langkah-langkah sepatu berhamburan menggema di seluruh koridor sekolah. Arma pun beranjak pulang.
***
Nek Inah melangkah keluar rumah, sambil membawa amplop yang satu jam lalu baru saja diterimanya dari pak pos. Matahari bersinar cukup terik, namun sepertinya kalah terang dengan senyum riang Nek Inah, matanya pun nampak berbinar-binar. Ada sesuatu yang membuatnya gembira hari ini.
Setelah mengunci pagar, Nek Inah berjalan ke arah perempatan, dimana di sana banyak becak yang mangkal. Sebenarnya kalaupun pergi dengan berjalan kakipun tak begitu jauh, tapi tenaga Nek Inah sudah berkurang drastis. Usia telah mengurangi kegesitan dan kekuatan kakinya, belum lagi sakit encok yang menggerogotinya. Menyesal juga sebenarnya dulu saat muda tak banyak melakukan olahraga.
“pergi kemana nih Nek? Ke sekolah seperti biasa?” Sapa pak Kusno, tukang becak langganan Nek Inah. Nek Inah tersenyum, pelan-pelan naik dan duduk di becak Pak Kusno.
“Iya Kus, biasa, mau jemput si Arma. Ayo jalan Kus!”
Pak Kusno mengayuh becaknya pelan. Menyusuri jalan raya yang masih rimbun dengan pohon sebagai pagar hijau. Di kota kecil ini becak masih diperbolehkan, meski sekarang tinggal sedikit. Perlahan-lahan mulai tergantikan dengan angkot.
“Kok agak telat Nek berangkatnya? Biasanya jam segini kan udah dapet separuh jalan.” Pak Kusno memulai obrolan.
“Iya Kus, baru dapat kabar baik ini, jadi tadi kebanyakan bengong.”
“Kabar baik apa Nek? Wah sepertinya sesuatu yang besar nih..”
“Besar apanya? Hehe..kabarnya cuma sebesar amplop ini.” Nek Inah menunjukkan amplop coklat besar yang dipegangnya. Pak Kusno melongo.
“Memang apa isinya Nek?” Pak Kusno ingin tahu.
“Isinya sesuatu yang hebat. Ini rahasia. Ini buat si Arma nanti.” Jawab Nek Inah misterius. Pak Kusno hanya menelan ludah tanda kecewa, sedang Nek Inah tersenyum penuh kemenangan.
“Eh Kus, nanti habis jemput Arma, kita ke warung soto Pak Dimin ya. nanti kamu ikut makan juga, aku bayarin.” Nek Inah melanjutkan. Pak Kusno tersenyum girang.
“Serius Nek? Wah tentu mau banget Nek.” Pak Kusno sudah melupakan kekecewaannya yang tadi. Bayangan nikmatnya soto Pak Dimin di samping terminal sudah menggoda lidahnya, membuat pak Kusno menelan ludah berkali-kali.
“Kalau begitu kayuhnya yang cepat, biar cepat nyampek sekolah Arma.” Nek Inah menyemangati. Pak Kusno pun segera mengayuh becaknya sekuat tenaga, dipikirannya hanya ada gambar Soto Pak Dimin.
***
Dina baru keluar dari toko baju, di tangannya menggenggam 2 tas kertas berisi baju yang baru dibelinya. Wajahnya tersenyum, tapi masih merasa kurang puas. Kurang apa lagi ya, pikir Dina. Disusuri trotoar sambil lirik kiri-kanan. Mencari sesuatu. Akhirnya, tepat sebelum lampu merah sana, terlihat papan nama yang menarik, Toko Kue Shinta. Dina tersenyum, bergegas ke toko itu.
Dari etalase tersaji beragam jenis kue yang sungguh menggugah selera. Itu belum seberapa, harum kue yang baru keluar oven langsung menyeruak memenuhi indera penciuman Dina. Tepat sekali, inilah yang kurang, batin Dina. Dina masuk ke toko disambut senyuman ramah khas penjaga toko.
“Silahkan mbak, mau beli kue apa? Atau mau lihat-lihat dulu?” terhampar di depan Dina potongan kue berbagai ukuran, dihiasi toping beraneka ragam.
“Kalau kue untuk ulang tahun ada nggak ya mbak? Enaknya yang mana ya?” Tanya Dina kebingungan. Semua kue di sana tampak menarik dan enak-enak.
“Oh gimana kalau yang ini mbak?” Penjaga toko menunjuk pada salah satu kue berukuran kecil, dengan lelehan cokelat cair, dihiasi potongan buah cherry merah tua. “Ada juga yang rasa keju kalau mau mbak.” Dina tersenyum.
Tak berapa lama kemudian Dina keluar dari toko kue itu. Ini baru sempurna, teriak Dina dalam hati. Dengan senyum riang, perempuan setengah baya itu berjalan di pinggir jalan raya, sampai tak disadarinya, sesuatu telah membuatnya limbung. Diantara sadar dan tidak, dia hanya melihat sebuah helm melayang melewatinya, lalu semuanya berubah gelap.
***
Arma celinguk kiri-kanan, melihat jam, lalu ganti melirik matahari yang bersinar panas-panasnya. Hari ini seperti biasa, nenek akan menjemputnya. Setiap jumat, memang itu kebiasaan nenek Inah, menjemput Arma lalu mengajaknya jalan-jalan. Dan Arma sangat menyukainya. Jalan bersama Nenek Inah selalu menyenangkan, kadang ke pasar tradisional, main becek-becekan dan beli jajanan pasar bermacam-macam. Kadang diajak ke toko kue teman nenek, dan di sana bisa makan kue gratis banyak pula, dan masih banyak hal seru lainnya. Karena itu, kali ini Arma tak sabar menunggu kedatangan Nenek Inah di tepi gerbang sekolah.
“Arma, masih nunggu Nek Inah?” Tanya Winda, tetangganya sekaligus teman sekelasnya. Winda menghentikan sepedanya di depan Arma.
“Iya, kamu udah mau pulang? Bukannya tadi dipanggil Bu Esti?” Arma balik nanya.
“Udah selesai kok, cuma masalah tugas aja. Ya udah, aku pulang duluan ya ..dagh!”
“Dagh..” Winda melesat pergi. Arma pun melanjutkan celinguk kiri-kanan, berharap Nek Inah segera datang.
Harapannya pun terkabul. Seperti biasa, Nek Inah ditemani dengan Pak Kusno mulai nampak di ujung jalan. Arma tersenyum senang. Lalu dirasakannya hapenya bergetar.
“Halo..Mama?” Arma mengangkat hapenya.
“Ah halo..maaf..maaf..ini ..saya cu..cuma mau ngasih tau, yang punya nomer hp ini kecelakaan, sekarang mau dibawa ke RS Muhammadiyah, kalau bisa langsung ke sini aja..” Suara di seberang tampak panik dan terburu-buru.
Arma mengernyitkan kening, setengah belum percaya,”Maaf ya pak, tolong jangan bercanda. Mana mama saya?” Ucap Arma tegas.
“Sungguh dek ini ga main-main. Saya hanya menghubungi nomer yang paling atas di daftar, saya bahkan nggak tahu yang saya hubungi ini siapa.” Suara di seberang terdengar sangat berisik,” Ini saya masih di lokasi, di perempatan Tendean, kalau nggak percaya kesini saja dek, tapi korban ini mau dibawa ke RS segera, sepertinya parah.” Suara bertambah ramai. “saya juga ikut ke RS dek, nama saya Sinom. Saya tutup dulu ya dek.” Klik. Putus.
Arma terbengong. Tepat bersamaan dengan datangnya Nek Inah dengan Pak Kusno.
“Ayo buruan Arma, nenek ada kejutan siang ini.” Nek Inah tersenyum, membayangkan betapa senangnya hati Arma dengan kejutan yang diberikan. Arma masih terdiam.
“Arma??” Panggil Nek Inah sekali lagi. Arma tersadar.
“Ah Nek...ehm..barusan Arma dapet telpon dari hp mama, tapi bukan mama yang telpon, seorang lelaki. Dia bilang mama kecelakaan. Sekarang dibawa ke RS Muhammadiyah.” Kata Arma datar, masih belum 100% konsentrasi.
Nek Inah tanpa bertanya langsung menarik tangan Arma, naik becak Pak Kusno. “Kus, cari angkot sekarang!”
***
“Coba telpon mama!” Perintah Nek Inah begitu turun dari angkot, tepat di RS Muhammadiyah. Arma langsung melakukannya. Tak lama kemudian Arma memberitahu Nek Inah,”Masih di UGD Nek.”
Mereka pun berlari menyusuri koridor RS, banyak sekali orang yang lalu lalang. Setelah sampai di depan UGD, mereka melihat 2 orang lelaki sedang duduk di kursi tunggu, baju mereka sebagian bernoda merah darah.
“Pak Sinom??” Ucap Nek Inah ragu-ragu. Salah seorang lelaki itu berdiri, tersenyum kecut. “Iya saya.”
Lalu berceritalah Pak Sinom tentang kronologis kejadiannya, saat Dina ditabrak, kemudian pelaku melarikan diri. Beberapa orang di sana tak sanggup mengejar pelaku yang langsung tancap gas. Kebetulan, toko Pak Sinom berada di dekat situ, sekaligus ada mobil yang digunakan untuk mengangkut barang. Akhirnya Pak Sinom dengan karyawannya mengantar Mama Dina ke RS terdekat, RS Muhammadiyah ini.
Yang ada kini hanya air mata. Arma tersedu sedan tak habis-habis. Nek Inah, mengucapkan terima kasih atas bantuan Pak Sinom, yang segera setelah itu pulang karena masih ada urusan. Nek Inah tak menangis, hanya saja matanya berkaca-kaca. Pengalaman hidup telah menjadikannya kuat, menenangkan Arma yang sangat terpukul. Sementara di sebelah Nek Inah, tergeletak sisa-sisa barang Mama Dina yang dibawa Pak Sinom dari lokasi tabrakan.
***
Arma memandangi mamanya yang belum juga siuman, meski tadi kata dokter masa kritis mama sudah lewat. Tinggal menunggu sampai pengaruh obat biusnya menghilang. Wajah mama tampak kusut, lelah. Tapi bagi Arma, wajah itu mendamaikan. Arma teramat menyayangi mamanya. Mamanya bagai seorang pahlawan. Arma tak pernah lupa jasa-jasa mamanya.
Sejak papanya meninggal dalam usia yang terbilang muda, mama beralih menjadi kepala keluarga. Tonggak penghidupan keluarga, mencari pekerjaan apa saja asal bisa terus membiayai Arma. Akhirnya mama mendapat pekerjaan, justru kebetulan di dekat rumah nenek, yaitu Nek Inah. Mereka pindah ke rumah Nek Inah, sedang rumah yang lama dijual. Sejak itu mama bekerja keras tak kenal lelah. Meski begitu, mama tetap begitu perhatian pada Arma, sering menemai Arma main, belajar, curhat, meski saat itu mama sedang lelah karena beban kerja. Arma selalu ingat senyum mama sebelum berangkat kerja, kecupan hangatnya di kening Arma, sambil tak lupa sudah menyiapkan sarapan di meja.
Karena itu, meski papanya sudah tak ada, Arma tak pernah merasa kesepian. Mama telah berhasil merangkap menjadi mama sekaligus papa, bahkan juga teman. Mama yang telah mengajarkannya banyak hal, mama yang selalu kuat, mama yang selalu tersenyum bahagia.
Pelan Arma mencium kening mamanya dengan penuh cinta, penuh kasih sayang, penuh pengabdian. Jika ditanya siapa yang paling berjasa dalam hidupnya, Arma akan tersenyum, dan tanpa ragu mengucap nama mamanya.
***
Mama Dina telah siuman, yang disambut dengan pelukan hangat dari Arma dan lelehan air mata Nek Inah.
***
Nek Inah memberikan amplop yang diterimanya beberapa hari yang lalu, yang rencananya akan menjadi kejutan untuk Arma, sebelum insiden kecelakaan menghancurkan rencananya. Di hadapan Dina dan Nek Inah, Arma membuka amplop itu. Surat pemberian beasiswa. Beasiswa dari sebuah perguruan tinggi negeri. Arma bersorak keras, lupa kalau saat itu mereka sedang berada di rumah sakit. Mama Dina hanya tersenyum bahagia, belum bisa banyak bergerak, sedang Nek Inah sudah tak sanggup membendung air mata bahagia. Mama Dina melebarkan tangannya, Arma langsung menghambur memeluk mamanya dengan demikian erat.
“Udah..udah..akhirnya kamu berhasil dapat beasiswa itu. Mama ikut senang Ar...” Ucap Mama Dina lirih, matanya tampak berkaca-kaca. Arma hanya diam, memeluk lebih erat mamanya sekali lagi.
***
“Bu...selamat ulang tahun ya...” Ucap Mama Dina di hadapan Nek Inah yang sedang giliran jaga. Nek Inah yang duduk di sampingnya memandang lekat putrinya, mengelus lembut tangan Mama Dina.
“Eh iya...Ibu sampai lupa, sudah tambah tua ya..” Ujar Nek Inah tersenyum.
Mama Dina menggenggam erat jemari Nek Inah, yang terasa semakin keriput,”Sebenarnya kemarin aku udah beli kue, tapi ternyata musibah mendahuluiku..” Mama Dina diam sejenak,” semoga Ibu panjang umur ya. Maaf kalau selama ini Dina udah banyak nyusahin Ibu, bikin Ibu repot, maafin Dina ya Bu..” Mama Dina terisak, tak kuasa menahan air matanya. Nek Inah pun sama, air matanya mengalir begitu saja. Nek Inah mengelus kening putrinya, menciumnya penuh kasih sayang.
“Sudah, yang penting kamu cepet sembuh dulu, kasihan tu si Arma...” Nek Inah diam sejenak,” ngomong-ngomong Arma kemana ya? dari tadi ga kelihatan?” Tanya Nek Inah. Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka. Arma masuk dengan membawa kue ulang tahun, dan menyanyikan lagunya dengan keras.
“Sebagai ganti kue yang dulu hancur dilindas motor Bu...semoga panjang umur ya.” Ujar Mama Dina.
“Selamat ulang tahun nenek!!!” teriak Arma yang langsung memeluk neneknya dengat erat. Acara makan kue pun berlangsung singkat, karena kuenya hanya dimakan Arma, sedang Mama Dina belum boleh makan, dan Nek Arma tak suka manis-manis. Dan diakhiri dengan sesi foto bersama, penuh senyum, penuh cinta, penuh kebahagiaan dari wajah tiga perempuan itu.
***
Nenek Arma menyimpan kembali memorinya yang tergambar di selembar foto itu. Ibu dan neneknya telah lama meninggal. Nenek Arma pun tak ingat kapan pastinya mereka meninggal. Tapi yang tak pernah dilupakannya adalah jasa-jasa mereka, serta senyum kebahagiaan yang selalu mereka berikan, yang sekarang juga ditularkannya pada anak dan juga cucunya.

Selasa, 01 Mei 2012

Empat Musim CintaEmpat Musim Cinta by Adhitya Mulya
My rating: 2 of 5 stars

cukup menghibur, lumayan cepat juga diselesaikan. sesuai judulnya, di sini menggambarkan cinta dalam banyak perspektif dan rasa, yang bisa beda-beda di tangkap manusia. Cinta tak melulu soal senang dan sedih, banyak rasa lain yang terkandung di dalamnya.
Sayang, yg paling membuat saya tak mengerti adalah "scene 40 yang bermasalah itu", cerpen ini kenapa bisa nyasar di buku kumpulan cerpen cinta yak? Bagaimanapun saya mengamatinya, dan dari sisi manapun, saya tak menangkap adanya percikan cinta meskipun hanya sekilas. Entahlah...
tapi berhubung ada beberapa cerpen yang saya suka seperti dimsum dan sekeping hati yang tersisa, maka 2,5 bintang deh ^^

View all my reviews

Minggu, 29 April 2012

Judul Buku ini RahasiaJudul Buku ini Rahasia by Pseudonymous Bosch
My rating: 5 of 5 stars

sukaaaa!!!

buku penuh misteri *halah*. buku ini sudah membuat kita penasaran sejak awal, penuh teka-teki dan rahasia. yah meski bukan rahasia yang kelam dan sangat menakutkan, secara di awal penceritaannya sudah berupa dongeng dan tokohnya anak kecil, pasti berkutat tentang misteri seru bagi anak kecil. apakah itu artinya saya tergolong anak ingusan? mungkin saja. pikiran saya masih terjebak di otak anak kecil meski badan saya sudah bongsor ;D

Cass dan Max, dua tokoh cilik pahlawan kita ini memiliki 2 karakter yang berlawanan, tapi berhasil menjadi teman atau mereka sebut rekanan. berdasar petunjuk buku agenda dan Simfoni Bau-Bauan, mereka memulai petualangan menyelamatkan teman mereka dan mengungkap kisah kejahatan masa lalu yg dilakukan kelompok Matahari Tengah Malam, yang bertekad mengambil intisari manusia yg mempunyai sinestesia, atau kekacauan panca indera, untuk melanggengkan hidup mereka.

petualangan khas anak-anak yg mendebarkan, konflik-konflik khas anak kecil dengan pemikiran dan kenekadan mereka, serta keberanian. sangat ga sabar untuk membaca buku keduanya...siapa ya yg punya??

^^

View all my reviews
Ramuan Drama CintaRamuan Drama Cinta by Clara Ng
My rating: 2 of 5 stars

Kaget pas pertama baca. ga seperti novel kebanyakan yg saya baca. alurnya terkesan loncat sana-sini, berasa lebih mirip cerpen. memang sih masih runut dan dapat diikuti, tapi berasa aneh aja gitu, novel segini tebel ceritanya loncat dari satu tokoh ke tokoh lainnya. mungkin karena tokohnya lumayan banyak kali ya?

tapi konfliknya keliatan kok, terlihat mendetail. membuat saya mengerti mesti ini buku kedua, sedang saya belum membaca yg buku pertama. 2,5 deh ya..

*hari libur males bikin review panjang* ^^

View all my reviews