DADU
Rasakan, engkau punya banyak pilihan....
Selasa, 06 Maret 2012
(Noted) Cerpen terbaruku..
ada sebuah cerpenku berjudul Aku Ingin Berdansa Bersamamu Sekali Lagi, yang sengaja tidak diterbitkan di sini. Cerpen itu menjadi salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen event Tribute2Whitney yang bekerja sama dengan nulisbuku.com, kalau tidak salah judulnya The Greatest Love of All Buku Satu. jadi kalau penasaran, mohon apabila sudah terbit nanti, untuk membeli bukunya. asal tahu saja, hasil dari buku tersebut akan digunakan untuk pengembangan Taman Baca Mahanani, dimana kebanyakan pembacanya adalah anak dan remaja. dengan begitu, kita juga ikut membantu mencerdaskan anak bangsa dengan buku, memberi pelajaran hidup pada mereka dengan cerita-cerita dll. terima kasih apabila kelak ada yang berkenan membeli bukunya. terima kasih
Senin, 05 Maret 2012
My rating: 2 of 5 stars
sungguh tak terbayang jika harus berhadapan dengan orang seperti monk ini, mungkin akan stres dan ngamuk-ngamuk ga jelas. syukurlah monk hanyalah khayalan. sungguh takjub akan imajinasi penulis menghadirkan sosok karakter yang benar-benar menyebalkan seperti ini, jauh dari tataran watak yang bisa diterima masyarakat. dan takjub lagi, masih ada orang yang bisa berinteraksi dengan orang seperti monk, walau tetap dengan kesabaran tinggi.
mungkin karena ini buku terjemahan, entah mengapa saya kurang bisa menikmati untaian-untaian kata di dalamnya, yang menurut otak saya tidak runut dan susah untuk dirunutkan...eh entahlah, saya juga bingung mengatakannya. yang jelas, gaya penceritaannya berbeda dengan misalnya novel bartimaeus, yang bisa dinikmati dengan mudah. atau mungkin otak saya yang terlalu lemot dan pemilih.
bagaimanapun, kisah detektif tetap seru untuk diikuti. dan di buku ini, saya merasa monk mirip conan atau kindaichi, yang dapat dengan mudah menebak alur atau cara pembunuhan, terkesan kurang pelik untuk dipecahkan. mungkin memang sebagai sosok pahlawan harus seperti itu, tapi untuk sebuah buku, seharusnya dibuat lebih pelik, menemui jalan buntu dsb, beda dengan komik yang butuh kecepatan dan jumlah halaman. atau mungkin dibuat rumit seperti komik death note, bakal seru juga.
meskipun suka dengan cerita detektif, sayang buku ini kurang cukup menghibur bagi saya, sehingga butuh waktu agak lama untuk menyelesaikannya, dan terpaksa hanya 2,5 bintang yang bisa saya berikan...
View all my reviews
Senin, 13 Februari 2012
(Sirosa) Senja
Senja kali
ini masih sama. Masih serupa dengan sembilan belas hari kemarin, dua bulan yang
lalu, delapan tahun sebelumnya. Masih dengan riuh senjanya yang sepi. Membawa butir-butir
warna jingga, mengecap ke relung hati. Masih ditemani dengan kicauan burung
yang serupa. Memanggil-manggil senada melodi jiwa yang mengalun lirih. Mengucapkan
beribu rindu yang tak menjadi lisan, menertawakan kebodohannya.
Kalau aku
ingat, masih di tempat ini, di senja ini, aku duduk menunggumu. Ditemani sembilu
janji yang melarikan diri, patah-patah menepati.
“kau tahu
kenapa aku suka di sini?” tanyamu tepat bersamaan dengan senyummu yang merekah.
Membiarkan otakku memotret sunggingan itu. Membawanya dalam hening malam menuju
peraduan, mengulangnya sekali lagi melalui alur mimpi. Membiaskan rona pipi
berbalut senja jingga, memantulkan berjuta asa yang tak pernah mampu keluar,
walau hanya sekejap menjejak bumi. Lalu di saat bersamaan, buih-buih rumput
teki terbang senada dengan helaan angin dan riak air. Mengalir membasahi
ujung-ujung rambutmu yang menebar wangi melati. Ah bukan, mungkin mawar. Mungkin
seroja. Mungkin bunga cinta.
Engkau berdiri
memandang ujung dunia. Memunggungiku, yang semakin lama kurasa semakin menjauh.
Merasakan kibasan halus rambutmu, memantulkan cahaya jingga tepat di wajahku. “kau
sempurna sekali.” Batinku, selepas melihatmu dari sudut manapun. Menikmati setiap
detailmu, bahkan sebelum kau menyadari adanya aku.
“aku akan
pergi.” Ucapmu ringan. Seringan kapas yang gugur bersama gravitasi, ditemani
hembusan udara yang bergelombang. Engkau memandangku dengan tatapan memelas,
seolah memaksa aku untuk tak merelakanmu. Memandangku tepat di ujung pupil yang
berhiaskan pelangi, yang meninggalkan noda-noda mendung, yang mungkin sebentar
lagi mengembun. Aku menyentuh lekat ujung kukumu dengan kukuku, membiarkan
ujung jemarimu dengan jemariku. Kulitmu begitu hangat, sedang diriku terasa
membeku. Aku menegakkan kepala, menatap datar padamu, dan merasa hujan telah
turun. Menodai rona pipimu, mengalir sesuai alurnya. Aku masih menyentuh ujung
jemarimu, dan kau kini meminjam punggungku, membuatku terpejam tak berdaya.
Hari-hari
selanjutnya, masih di senja yang sama, potongan mozaik-mozaik kertas bertaburan
di pelukku. Menebarkan berjuta aksara yang tak pernah habis. Menyampaikan ceritamu
hanya sebatas wacana, meniadakan suara dan gemulai raga. Kupandangi ujung
dunia, mencoba merasakan apakah sama punyamu dan punyaku. Kita tak pernah
saling berbagi, selalu menganggap kita telah mengerti satu sama lain. Menyempitkan
persepsi dunia hanya sebatas logikaku dan perasaanmu.
“Kau masih
menungguku?” suara itu begitu lirih, terucap melintasi samudera dan gugusan
pulau. Aku masih menunggumu, teriakku begitu keras. Sekeras deburan ombak
menghantam karang, terbang bersama burung-burung manyar melintas benua. Mengenang
dengan jelas, saat dimana kelingking kita menari, saling mengikat dan
menyimpul, menihtakan janji laksana palapa. Dimana itu terakhir kalinya jemari
kita saling menyentuh, ujung kuku kita saling beradu.
Senja ini
masih sama, dengan aroma melatinya, ah bukan, aroma mawarnya, ah salah, aroma
seroja, ah mungkin aroma cinta. Masih dengan guratan jingga, memantul sempurna
ke retina. Masih dengan ujung dunia yang sama, tak terlihat. Yang berbeda, kini
aku di sini tak sendiri, tak lagi ditemani rumput teki, helaan angin, atau riak
air. Aku kini bersama dengan bidadari-bidadari bersuara mungil, yang sedang
berlarian, berkejaran, tertawa. Membawa ingatanku bertualang bersama. Lalu tangan
lembut itu menyentuh ujung punggungku, membelaiku dengan nada yang memabukkan,
memberi nyaman, melelapkanku. “kau baik-baik saja kan?” ujung jemarinya
menguatkanku, ujung kukunya meneguhkanku, serupa dengan dirimu dulu.
Dia lalu
memanggil bidadari-bidadari, menjadikan malaikat-malaikat kecil mengelilingiku,
berdiri di sampingku. Lalu jemari kami saling bertautan, saat bersamaan dengan
embun tipis menembus ujung bulu mataku. Jatuh bersama jingganya senja, diiringi
aroma seroja, menunduk lemah, menatap pusaramu. Janji itu tak pernah lekang,
tapi sayangnya, hidup terus berjalan. Relakan dia menggantikanmu, biarkan janji
kita ikut terkubur bersama ragamu.
Jumat, 10 Februari 2012
Cukup dengan Bayangmu
Aku baru mengenal lelaki separuh
baya itu seminggu, dan ajaibnya, aku langsung menyukainya. Dia tetanggaku,
persis sebelah rumahku. Aku baru membeli rumah dan menempatinya seminggu ini.
belum banyak yang kukenal di lingkungan baru ini, salah satunya tetanggaku ini.
Pak Dedi namanya. Umurnya sekitar
40-an lebih. Badannya kekar, tapi berwajah lembut menyejukkan. Murah senyum
lagi. Kami bertemu pada suatu sore, setelah beres-beres pindah rumah, Pak Dedi
sedang menyiram bunga di halaman depan.
“Sore pak, wah tanamannya subur
sekali pak” ujarku basa-basi
“wah iya nih lumayan..” Pak Dedi
mengangkat wajahnya, tersenyum.
“sayang belum berbunga pak. Oh ya,
kenalkan pak, saya tetangga baru bapak, baru aja pindahan ini. Anton pak nama
saya.” Kuulurkan tangan menjabat pak Dedi.
“ohya...saya Dedi. Sama siapa nih
tinggal di rumah baru? Sudah berkeluarga?” tanya pak Dedi.
Aku hanya tersenyum,”Ah pak,
belum dapet jodohnya, masih single aja pak. Kalo bapak?”
“saya sama istri, sudah 20 tahun
tapi belum diberi momongan.” Wajahnya menyiratkan mendung sekilas. “kebetulan
istri saya sedang ke pasar sore nih, biasa ibu-ibu, suka lama kalo di pasar”
pak Dedi terkekeh, menutupi mendung yang tadi terlihat di wajahnya.
Sore itu kami mengobrol untuk
mengenal lebih dekat, karena sebagai tetangga tentunya kami akan saling
merepotkan nantinya, saling membantu satu sama lain, sehingga keakraban itu
sangat diperlukan.
###
Sepulang kantor, aku menyempatkan
membeli martabak dua bungkus, satunya nanti ingin kuberikan pada pak Dedi. Maklum,
selama seminggu aku bekerja, dari pagi sampek pulang malam, pak Dedi sukarela membersihkan
halaman rumahku.
Aku tak tahu pak Dedi sebenarnya
bekerja apa, beliau mengaku bekerja sebagai karyawan swasta, di salah satu
kantor tak jauh dari perumahan kami. Tapi karena aku berangkat lebih pagi dan
pulang larut malam, aku tak pernah menjumpai pak Dedi berangkat ataupun pulang
kerja. Kami hanya mengobrol saat akhir pekan tiba, di halaman rumah, sore hari
saat menyiram tanaman hias.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam,
sudah cukup larut, tapi lampu di rumah pak Dedi masih menyala terang. Sejenak aku
ragu, pak Dedi sudah tidur atau belum, mengingat usia pak Dedi yang tak lagi
muda, seharusnya jam segini sudah istirahat. Tapi percuma donk aku beli
martabak dua kalau akhirnya harus kumakan sendiri, akhirnya kuketok pintu rumah
pak Dedi.
“eh nak Anton, ada apa nih
malam-malam, ada yang bisa dibantu?”
“ah maaf pak mengganggu, nggak
kok pak, ini kebetulan tadi beli martabak berlebih, daripada ga ada yang makan”
“wah ngrepotin aja nih, makasih
ya. ayo duduk dulu, besok libur kerja kan?” pak Dedi mempersilahkanku duduk di
kursi kayu antik di terasnya. “kebetulan bapak lagi ngopi, enak kalo diselingi
martabak.” Setelah itu pak Dedi masuk ke dalam rumah.
Aku duduk menikmati udara malam,
bunga-bunga sudah mulai menguncup, belum terasa wanginya.
“nah ini kopinya, ini
martabaknya, ayo kita begadang.” Pak Dedi muncul dari dalam rumah, tersenyum
lebar. “istri saya sudah tidur, jadi ga ketahuan kalo kita begadang bareng..hahaha!”tawa
pak Dedi begitu keras, aku cemas bagaimana kalau sampai istrinya terbangun,
nanti aku yang disangka membawa pengaruh buruk untuk pak Dedi. Dan begitulah,
kami ngobrol semalaman.
###
Sudah sebulan lebih aku di sini. Dan
baru-baru ini muncul pertanyaan di benakku, aku sama sekali belum pernah
bertemu dengan istri pak Dedi sekalipun. Setiap aku ngobrol dengan pak Dedi,
pak Dedi selalu mengatakan istrinya sedang kemanalah, sedang ngapainlah. Dan aku
jarang sekali melihat pak Dedi keluar rumah, tetangga lainnya pun hanya sebatas
menyapa ketika bertemu pak Dedi, tak pernah lebih. Dan pertanyaan itu
seringkali menemaniku terlelap tidur.
Pagi ini aku bersiap-siap ke
masjid untuk sholat subuh. Sehabis sholat, yang cuma berjamaah 5 orang, aku
berjalan pulang, berlainan jalan dengan jamaah yang lain. Lalu aku melihat
sesosok tubuh keluar dari rumah pak Dedi, berjalan pelan menyusuri jalan, belok
ke gang kecil dan berhenti di pemakaman umum. Sosok itu berdiri di depan sebuah
pusara, diam membatu. Entah kenapa tadi aku tanpa sadar membuntutinya, sosok
itu tak lain adalah pak Dedi.
###
Pak Dedi tidak gila, hanya
terlalu terobsesi. Tak bisa meninggalkan kenangan. Baginya, kenangan itu adalah
kenyataan, dan realitas adalah sebuah mimpi. Pak Dedi terjebak dalam pikirannya
sendiri. Istri pak Dedi meninggal 10 tahun yang lalu. Meskipun tak dikarunai
momongan, pak Dedi teramat mencintai istrinya. Setiap detail yang dilakukan
istrinya begitu hafal di benak pak Dedi. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan,
urut-urutannya, begitu lekat di pikiran pak Dedi. Dan begitu istrinya meninggal
karena suatu penyakit, pak Dedi begitu terpukul. Seminggu setelah pemakaman,
pak Dedi mulai berubah. Bertingkah seolah-olah istrinya masih hidup. Tak ada
yang berubah, selain bayangan istrinya yang masih lekat di pelupuk mata pak
Dedi.
Selasa, 06 Desember 2011
My rating: 3 of 5 stars
aslinya sih pengen ngasih 3,5.
buku ini dibeli di obralan, cuma iseng saja awalnya. tapi ternyata ga menyesal, karena kualitas buku ini bukan kualitas obralan, berasa beruntung banget dapetnya.
ceritanya seru, misterius, sebangsa thriller kali ya...
tapi yang jelas ga ngebosenin,
nilai plusnya karena saya beli di obralan tapi kualitasnya harus berada di rak buku...
View all my reviews
Senin, 05 Desember 2011
My rating: 3 of 5 stars
pertama suka karena ada unsur jepangnya. pas baca, menyukai gaya bercerita yang menggunakan 2 sudut pandang. jadi emosi yang terjadi lebih bisa tergambar, apa yang dialami tiap-tiap tokoh.
kecewa karena sebelumnya pernah baca Refrain, buku Winna yang lain. tema yang diangkat sama, cinta yang terlilit ikatan persahabatan. jadi berasa kurang fresh aja.
dan, meskipun ternyata unsur jepangnya kurang begitu detail, saya tetep suka buku ini.
View all my reviews
My rating: 3 of 5 stars
cukup seru bacanya. termasuk golongan bacaan petualangan yang ringan dicerna, dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. tapi itu juga menjadi titik lemah, karena cerita petualangan atau fantasi yang kurang 'wah', terkesan sederhana dan biasa saja.
penceritaan yang keren, melalui detail liku-liku kota venezia, apalagi terdapat peta di bagian belakangnya, yang sayangnya baru saya sadari setelah selesai membaca dan membuka lembar terakhir.
tapi bagaimanapun, saya suka buku ini...^^
View all my reviews
Langganan:
Postingan (Atom)